Tampilkan postingan dengan label felixsiauw. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label felixsiauw. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Oktober 2012

Awas! Pemurtadan Abad-21


Awas! Pemurtadan Abad-21

Pertama-tama, kita harus mengubah paradigma berfikir kita bahwa kristenisasi/pemurtadan hanyalah berubahnya agama seorang muslim manjadi agama kristen. Tetapi adalah juga bila seorang muslim tidak lagi menjadikan Islam sebagai landasannya atau kite sebut orang yang terkristenkan pemikirannya. Yang terakhir inilah yang paling berbahaya. Ini sesuai dengan yang dikatakan Samuel Zweimer, seorang yahudi yang menjabat direktur organisasi misi Kristen
“Misi utama kita bukan menghancurkan kaum Muslim sebagai seorang kristen… Tujuan kalian adalah mempersiapkan generasi baru yang jauh dari Islam, generasi yang sesuai dengan kehendak kaum penjajah, generasi malas yang hanya mengejar hawa nafsu (walaupun mereka muslim).”


Dari sini, kita menjadi paham, bahwa sesungguhnya akar masalah dari kristenisasi ini ada dua: Pertama, rendahnya pemahaman kaum muslim mengenai Islam. Ketika pemahaman Islam sudah tidak ada lagi maka dengan mudah mereka akan berpindah agama dan murtad secara pemikiran. Kedua, rendahnya pemahaman umat atas Islam ini, adalah hasil dari sistem pemerintahan yang dipakai oleh Indonesia pada saat ini, yaitu sekularisme (memisahkan antara agama dengan kehidupan).
Sistem inilah yang mengajarkan kita konsep agama “parsial” yaitu hanya ritual untuk individu. Kita bisa melihat bahwa ketika kaum muslim masih dilindungi oleh kepemimpinan Khilafah Islam, pemurtadan bukanlah masalah besar bagi kaum muslim.
Sehingga keadaan seperti yang kita hadapi saat ini adalah keadaan yang sangat menguntungkan dan memberikan kesempatan yang sangat besar bagi agama kristen yang memang tak memiliki aturan tentang kehidupan secara komprehensif untuk mempropagandakan agama mereka
Solusi Islam atas Kristenisasi
Dari apa-apa yang telah kita uraikan tadi, maka solusi satu-satunya bagi ummat Islam yang ingin bangkit dari segala keterpurukan masalah kristenisasi ini adalah dengan mengembalikan Islam dunia yang terpisahkan dari Islam akhirat pada diri kaum muslim dan mengamalkan hanya Islam itu saja secara kaaffah. Dan tentunya tidak menambah dan mengambil apa-apapun selain dari Islam. Berkaitan dengan hal ini Allah berfirman:
Apakah kamu beriman kepada sebahagian dari al-Kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain(QS al-Baqarah [2]: 68)

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (QS Ali Imran [3]: 85)

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut[1] itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. (QS an-Nisaa’ [4]: 60)

’Ala kulli hal, setiap muslim harus memahami, bahwa sesungguhnya kristenisasi adalah masalah sistemik yang didukung oleh tidak hanya kekuatan individu dan kelompok, tetapi juga didukung kekuatan negara seperti AS. Yang tidak cukup dihadapi hanya dengan individu ataupun kelompok, tetapi harus dihadapi dengan kekuatan yang seimbang dan dapat menggentarkan kaum kafir.
Yaitu bersatunya Islam dalam satu kepemimpinan dalam bentuk Institusi legal formal yaitu Daulah Khilafah Islamiyyah yang menerapkan syari’at Islam secara kaaffah dengan Imam (pemimpin) yang siap menjadi perisai bagi umat Islam.
”Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (TQS al-Anfaal [8]:60)
”Imam adalah laksana perisai, diperangi orang dibelakangnya dan ia dijadikan pelindung”. (HR. Muslim)

“Imam yang disertai jabatan memimpin umat manusia adalah laksana penggembala, dia bertanggung jawab akan kemaslahatan rakyatnya”. (HR. Bukhari)
Semoga kita memahami bahwa Islam sesungguhnya adalah sebuah sistem yang lengkap yang hanya memperlihatkan kesempurnaanya bila diterapkan secara kaaffah. Tidak cukup sampai disitu, semoga kita juga menjadi orang yang bangga dan memperjuangkan Islam itu dengan segenap kemampuan yang kita miliki, karena sesungguhnya Allah telah berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (QS as-Shaff [61]: 10-11)
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (QS at-Taubah [9]: 111)
Felix Siauw yang anti-pemurtadan :)
sumber:felixsiauw.com

Sahabat yang Mengubah Batu Menjadi Emas

Siapa tak mengenal Abdurrahman bin Auf? Salah satu dari 10 sahabat yang dijamin mendapatkan surga. Bahkan semua Muslim pada masa sulit seperti sekarang tentu lebih menginginkan menjadi sepertinya dan berusaha mengikuti jejaknya sebagai kontribusi dalam Islam. Beliau pernah menyumbangkan separuh hartanya ditambah 40.000 dinar, 500 kuda dan 500 unta dalam satu waktu, dan menyumbangkan 50.000 dinar fii sabilillah ketika meninggal, dan lebih banyak lagi yang beliau sumbangkan tatkala masih hidup.
Abdurrahman bin Auf adalah ikon Muslim salih dan kaya. Kombinasi yang tampaknya sulit kita temukan pada abad-abad terakhir. Tapi sulit bukan berarti mustahil. Kita hanya perlu sedikit demi sedikit mempelajari kisahnya dan berharap bisa lebih ‘salih dan kaya’ setiap harinya.
Ketika Rasulullah memerintahkan hijrah menuju Madinah, Abdurrahman bin Auf adalah salah satu shahabat yang berhijrah tanpa harta, karena beliau lebih memilih Allah serta Rasul-Nya dibanding harta melimpah yang selama ini dia usahakan di Makkah.
Begitu sampai di Madinah, Rasulullah saw mempersaudarakan Abdurrahman bin Auf dengan saudagar paling kaya di kota itu, Sa’ad bin Rabi’. Saking bahagianya, Sa’ad bin Rabi’ yang telah mendengar kehebatan Abdurrahman dalam berdagang langsung memperlihatkan semua tokonya pada Abdurrahman, lalu meminta Abdurrahman memilih separuhnya. Tidak hanya itu, Abdurrahman bahkan diminta memilih salah satu dari istri sahabatnya Sa’ad bin Rabi’ yang paling disukainya. Subhanallah, inilah persahabatan dalam Islam.
Namun Abdurrahman menjawabnya “Semoga Allah memberkahi hartamu dan keluargamu, aku tidak memerlukan semua itu. Akan tetapi, tunjukkanlah aku dimana pasar supaya aku dapat berdagang disitu”
Sa’ad bin Rabi’ pun menunjukannya letak pasar. Dan dalam waktu dekat perniagaannya berkembang dan menikahi seorang Muslimah dengan mahar emas seberat biji kurma. Tidak hanya itu, dia menjadi orang yang paling kaya di Madinah setelahnya.
Dari sini ada beberapa pelajaran yang bisa kita tarik.
1.       Abdurrahman bin Auf menunjukkan kepada kita bahwa modal harta itu penting, tapi modal mental lebih penting. Mental kaya lebih penting daripada kaya. Abdurrahman memulai dari nol dan mampu mengumpulkan kekayaan lebih banyak karena dia memiliki mental kaya. Mental kaya ini misalnya selalu mau memberi bukan menerima, siap dengan kerasnya usaha, tangguh, bersungguh-sungguh dalam usaha dan meyakini keberhasilan usahanya. Ini tergambar dari perkataannya “Seandainya aku membalik sebuah batu, maka aku akan menemukan emas atau perak”
2.       Selain mental kaya, Abdurrahman juga memahami secara mendalam seluk beluk perdagangan secara teknis. Abdurrahman tidak hanya memiliki mental saja, tapi dia juga menguasai pasar. Sesampainya di Madinah, Abdurrahman dikisahkan mendatangkan minyak samin dan keju dari wilayah lain untuk dijual di Madinah. Artinya beliau paham betul masalah supplier dan jalur distribusi, networking, marketing, dan tentunya selling.
3.       Belajar dari Abdurrahman bin Auf yang lain, beliau meniatkan semua hartanya untuk diinfakkan di jalan Allah semaksimal mungkin. Pada saat perang Tabuk beliau menginfakkan 200 uqiyah emas dari hartanya ( 1 uqiyah emas = 29,75 gram emas), sehingga Umar mengkhawatirkan apakah Abdurrahman menyisakan untuk keluarganya. Saat ditanya Rasulullah perkara uang yang dia tinggalkan untuk keluarganya, beliau menjawab “Mereka kutinggalkan lebih banyak dan lebih baik daripada yang kusumbangkan.” Rasul melanjutkan pertanyaannya “Berapa?” Maka Abdurrahman menjawab: “Sebanyak rezeki, kebaikan, dan pahala yang dijanjikan Allah.”
Siapa yang membantu agama Allah, Allah akan membantunya. Siapa yang memberi pinjaman kepada Allah, akan dilipatgandakan. Begitulah Abdurrahman yang bertambah kaya karena menginfakkan hartanya fii sabilillah. Simak perkayaan Allah dalam hal ini:
مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan (TQS Al-Baqarah [2]: 245)
4.       Yang terakhir, Abdurrahman adalah ksatria Islam yang istimewa, dan termasuk diantara sahabat yang mampu secara maksimal berjuang dengan harta dan jiwanya. Mungkin kita mengetahui beliau senang menginfakkan hartanya di jalan Allah. Tapi sedikit yang mengetahui bahwa Abdurrahman juga maju ke medan perang. Dia tidak menganggap bahwa harta adalah pengganti dirinya untuk maju ke medan perang. Dia memperjuangkan surga Allah dengan harta dan jiwa. Dan Allah menggantinya lebih banyak lagi. Sederhananya, dia menjadikan hartanya sebagai wasilah (perantara) ibadah, bukannya sebagai tujuan
Walhasil, beginilah profil pengusaha Muslim yang layak dinanti. Yang siap mengorbankan seluruh harta dan jiwanya di jalan Allah. Mungkin sulit, tapi bukan berarti mustahil. Yang ada saat ini, orang yang memiliki harta merasa bisa mengganti maksiat mereka dengan infak harta. Atau sebaliknya, merasa perjuangannya cukup dengan jiwa saja tapi pelit mengeluarkan harta. Semoga Allah segera mengenalkan kita profil-profil Abdurrahman bin Auf pada zaman kita, sehingga kebangkitan Islam semakin dekat. Semoga.
sumber:felixsiauw.com