ADA tiga hal yang sedang berkembang. Pertama, mereka
memiliki pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang agama, terutama
apabila mereka dibesarkan dengan perintah-perintah tanpa membangun cara
berpikir mereka tentang tuhan. Mereka hanya dikenalkan dengan
aturan-aturan tanpa memperoleh pendidikan akidah yang memadai. Kedua, mereka
sedang ingin menunjukkan otoritas dan kemampuannya; bahwa mereka mampu
bertanggung-jawab penuh atas diri mereka sendiri. Mereka ingin menjadi
pribadi mandiri. Ketiga, mereka mulai memiliki ketertarikan terhadap lawan jenisnya dan ingin memiliki ikatan emosi yang bersifat khusus.
Apakah
remaja merupakan masa keguncangan (storm & stress) dimana mereka
mengalami krisis identitas? Tidak selalu demikian. Mari kita buka buku
karya John W. Santrock yang berjudul Adolescence (2001). Kita
melihat di sana bahwa ada remaja yang mengalami krisis identitas –dan
banyak jumlahnya—sehingga tidak sedikit yang berperilaku aneh, tetapi
ada pula yang tidak mengalami krisis identitas. Mereka memasuki masa
remaja dengan identitas yang sangat kokoh. Inilah yang disebut sebagai identity foreclosure.
Tentu
bukan kebetulan kalau mereka tidak mengalami krisis identitas.
Pertanyaannya, apa yang menyebabkan mereka mampu memasuki masa remaja
dengan identitas diri yang jelas dan kepribadian yang mantap? Jawabnya
bisa kita runut pada masa sebelum mereka memasuki usia remaja. Anak-anak
yang tidak mengalami krisis identitas itu adalah mereka yang sebelum
memasuki masa remaja telah memiliki orientasi hidup yang benar, tujuan
hidup yang jelas dan nilai-nilai yang kuat.
Dari tiga hal tersebut, mana yang paling berpengaruh terhadap kehidupan remaja?
Sangat tergantung bagaimana mereka dibesarkan, baik oleh orangtua di
rumah maupun guru di sekolah, apa yang paling sering mereka perhatikan,
terpaan media yang paling sering mereka terima serta nilai-nilai utama
yang sering mereka terima dari buku-buku, guru-guru, orangtua dan
lingkungan.
Jika sekolah secara terencana memiliki penghargaan yang sangat
tinggi terhadap usaha yang gigih, maka remaja akan cenderung lebih
mengembangkan kompetensi, kreativitas serta kapasitas mereka untuk
mandiri.
Sebaliknya jika lingkungan sekolah justru merupakan tempat
pertaruhan gengsi dimana anak merasa tersisih jika tidak punya HP, maka
krisis identitas mudah terjadi dan ketertarikan terhadap lawan jenis
beserta turunannya berkembang lebih pesat daripada aspek-aspek lainnya.
Itu sebabnya, sekolah perlu mempertimbangkan kembali izin membawa HP ke sekolah bagi para siswa, sekalipun untuk jenjang SLTA.
Pada
dasarnya, tiga hal tersebut perlu mendapat perhatian dari para
pendidik. Jika aspek pertama berkembang dengan baik sehingga
pertanyaan-pertanyaan mendasarnya tentang agama memperoleh jawaban yang
memuaskan, mereka akan tumbuh menjadi manusia idealis.
Jika sekolah mampu membangun budaya belajar yang kuat, mereka akan
tumbuh sebagai manusia yang kaya gagasan, penuh inovasi dan memiliki
keberanian tinggi untuk berusaha dan siap menghadapi kegagalan. Ini
merupakan bekal berharga untuk menjadi manusia tangguh dan sukses.
Adapun dorongan terhadap lawan jenis, jika memperoleh pembinaan yang
tepat, akan berkembang menjadi kesiapan berumah-tangga, orientasi untuk
berkeluarga, penghormatan terhadap orangtua dan rasa tanggung-jawab
terhadap yang usianya lebih mudah.
Dorongan untuk menyukai lawan jenis bisa berkembang “ke kiri”
sehingga remaja menyibukkan diri dengan urusan syahwat, bisa berkembang
“ke kanan” sehingga remaja mengembangkan cinta yang tulus, minat
terhadap masalah rumah-tangga, kasih-sayang kepada sesame dan rasa
tanggung-jawab terhadap keluarga. Yang disebut terakhir ini sekaligus
berperan penting menguatkan aspek kedua, yakni dorongan untuk mandiri.
Lalu,
kapan kita mulai bisa menumbuhkan rasa tanggung-jawab terhadap yang
usianya lebih mudah? Saya tidak bisa menjawab secara pasti. Saya masih
perlu belajar lebih jauh. Yang bisa saya sampaikan adalah, kita sudah
bisa memberi tanggung-jawab “secara penuh” kepada anak-anak kelas 1 SD
agar membimbing adik-adiknya. Ini diwujudkan dalam bentuk program
pendampingan terhadap adik kelas, sehingga begitu mereka naik kelas 2,
tiap anak memiliki tanggung-jawab mendampingi dan membimbing satu adik
kelasnya.
Menata Orientasi Terhadap Lawan Jenis
Dorongan
untuk menyukai lawan jenis itu merupakan keniscayaan. Bentuknya bisa
berupa hasrat untuk berpacaran, menyukai pembicaraan yang berhubungan
dengan kemolekan maupun seks, bisa juga menumbuhkan kecenderungan untuk
bersibuk-sibuk dengan hal-hal yang berkait dengan daya tarik diri.
Penyimpangan dari dorongan ini bisa berwujud kecenderungan
homoseksualitas, biseksualitas, penampilan tomboy, voyeurism, banci
–baik dalam cara berbicara maupun berpakaian—serta berbagai bentuk
penyimpangan seks lainnya.
Adapun jika dorongan memperoleh pembinaan dan arah yang baik akan
berkembang menjadi penghormatan terhadap lawan jenis, penjagaan diri
dari kemaksiatan dan keinginan yang kuat untuk memiliki rumah-tangga
yang ideal. Dalam hal ini, contoh nyata yang menginspirasi sangat besar
perannnya.
Dari sini kita bisa memahami mengapa di Singapura
usia 16 tahun diperbolehkan untuk menikah dengan syarat sudah
mengantongi ijazah parenting, yakni ijazah yang diperoleh setelah
seseorang menempuh short course (kursus singkat) tentang
pengasuhan anak dan komunikasi keluarga. Ini bukan soal gizi, bukan pula
soal teknologi informasi, tetapi soal orientasi terhadap lawan jenis.
Dan inilah yang justru kita abaikan. Kita lebih sibuk mereaksi fenomena
yang sedang muncul daripada mengkaji apa yang seharusnya kita lakukan
terhadap remaja yang memberi manfaat jangka panjang. Reaksi terhadap
fenomena kerapkali hanya mengatasi masalah secara parsial dan bersifat
jangka pendek.
Ini bukan berarti kita tidak boleh belajar
bagaimana berbicara tentang seks kepada remaja –termasuk anak-anak.
Tetapi jika kecenderungan untuk menyimpang sudah merupakan gejala umum,
maka yang harus kita lakukan adalah menata ulang sekolah kita dan lebih
awal dari itu adalah pengasuhan anak di rumah.
Akan lebih baik lagi jika kita mampu melakukan perubahan pada tingkat
kebijakan media massa; sumber kerusakan sosial yang paling dahsyat dan
memperoleh perlindungan maksimal di negeri ini dengan berlindung di
balik baju kebesaran bernama hak asasi dan kebebasan pers.
Lalu
bagaimana jika remaja kita sudah terlanjur salah arah sehingga mereka
justru sibuk berpikir tentang seks dan bukannya mengembangkan prestasi?
Ada yang harus kita kerjakan. Ada dua pilihan: kita mengikuti arus
mereka atau memutar arah berpikir mereka. Pilihan pertama lebih ringan
menjalaninya, tapi siapkah kita mempertanggungjawabkannya di akhirat
kelak apabila mereka menjadi musuh di hadapan Allah Ta’ala? Bahkan,
jangan-jangan sebelum mati pun, mereka telah amat menyusahkan kita.*
Penulis pemerhati masalah psikologi pendidikan dan penulis buku-buku parenting, twitter: @kupinang
hidayatullah.com
49.81/4912. Telah menceritakan kepadaku Ahmad bin 'Umar bin Hafsh Al Waki'i telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudhail telah menceritakan kepada kami bapakku dari Thalhah bin 'Ubaidullah bin Kariz dari Ummu Ad Darda' dari Abu Ad Darda' dia berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) yang berjauhan, melainkan malaikat akan mendoakannya pula: 'Dan bagimu kebaikan yang sama.'
Tampilkan postingan dengan label pemuda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pemuda. Tampilkan semua postingan
Rabu, 24 Oktober 2012
Minggu, 21 Oktober 2012
Senin, 15 Oktober 2012
Kaum Muda Harus Dapat Minati Pertanian
“Oleh karena itu, pertanian harus diminati kaum muda!” tuturnya ketika membuka acara kursus singkat bertema ‘The Development of Tropical Wheat’ pada 26 Maret hingga 4 April 2012 di kampus Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga.
Selain itu, Kepala Badan juga menyoroti tentang pemanfaatan lahan rawa untuk pengembangan sektor pertanian yakni dari 33 juta ha rawa yang tersebar di berbagai pulau besar, baru 4 juta ha yang dimanfaatkan. “Perlu RND atau penelitian dan pengembangan, network, serta mahasiswa untuk pembangunan pertanian Indonesia,” jelasnya.
Berkaitan dengan hal tersebut, Pusat Studi Gandum Fakultas Pertanian dan Bisnis (PSG FPB) UKSW sejak tahun 2000 telah melakukan penelitian dan pengembangan gandum tropis dengan mengintroduksi galur dari India. Setelah melalui tahapan-tahapan pemuliaan, PSG FPB UKSW menghasilkan varietas Dewata yang dilepas oleh Menteri Pertanian melalui penerbitan Keputusan Mentan Nomor 174/Kpts/LB.240/3/2004.
Untuk mengembangkan minat kaum muda, FPB UKSW bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Badan Litbang Pertanian Kementerian Pertanian, dan PT Indofood Sukses Makmur Divisi Bogasari mengadakan program kursus The Development of Tropical Wheat ini.
Selain dihadiri oleh Kepala Badan Litbang Pertanian dan Rektor UKSW Prof Pdt John Titaley ThD, turut hadir sebagai tutor tamu Dr Subrahmaniam Nagarajan PhD FNA dan Dr Shanta Nagarajan dari Indian Agriculture Research Institute, New Delhi, India.
Minggu, 07 Oktober 2012
Perlunya Pendidikan Karkater Islami
Menciptakan siswa berprestasi adalah sebuah keniscayaan. Menurut
Kepala Sekolah SMA Darul Hikam, Kota Bandung Nandang Koswara mengatakan
prestasi untuk di sekolah kami bukan sekedar raihan akademis semata
tetapi prestasi itu raihan yang merupakan keseimbangan antara IQ, EQ dan
ESQ.”Jadi artinya begini, akademis dan kognisinya bagus serta dari sisi
emosionalnya terjaga dan juga kecerdesan spritualnya pun ideal.” Saat
ditemui warta isilam.com di tempat kerjannya baru-baru ini.
Lebih jauh ia menambahkan, dalam pendidikan itu sendiri yang dibangun adalah dua sisi yaitu intelektualnya terjaga dan bisa dikembangkan serta mental attitude atau karakternya terpelihara karena karakter itu sendiri adalah akhlak. Katanya, dalan program pendidikan yang dijalankannya, pihaknya melakukan pembiasaan kepada siswa-siswanya. Tidak di situ saja, rupanya pengembangan potensi soft skill yang dimiliki para siswa. Merupakan hal yang cukup penting pula untuk diperhatikan. Soft skill adalah semacam ketangguhan, keuletan, keluwesan juga kemandirian. Oleh karenanya, maka tak heran bila soft skill itu mendominasi para murid sebesar 80 % sementara akademik hanya 20 %. “Nah Agar menciptakan siswa yang handal dan unggul, maka saatnya kita membahanakan pola pendidian Rasulullah SAW dengan mengedepankan keteladan Keteladanan, motivasi, keterampilan dan pembiasaan,” tambahnya kemudian.
Kata Nandang, kepintaran yang tidak dimbangi dengan soft skill tadi maka akan menghasilkan orang-orang yang selalu akan membolak balikkan fakta dan bahkan bisa menjadi menjadi penjahat ulung. “Anda bisa lihat, banyak orang pintar di negeri ini tetapi mengapa kasus korupsi malah semakin merajalela ?”
Untuk menyukseskan pendidikan di tanah air, ia mengatakan harus ada sinergisiatas antara |Permerintah dan Masyarakat. Jika Mendikbud telah mencanangkan program pendidikan karakter. Justeru pendidikan karakter Islami ini di Darul Hikam telah dfilakukan sejak tahun 1966
Menurutnya, hal ini akan terwujud apalagi Pemerintah dengan berbagai upaya telah bekerja keras dan sumber dana sebesar 20 % dari APB sudah singnifikan. Selanjutnya yang harus dilakukan adalah upaya sinergis dari berabgai lini, termasuk sinergisitas natara Pemerintah dan masyarakat. Jika itu tercipta secara baiuk maka Pemerintah akan merasakan hasilnya nanti,” pungkasnya menutup perbincangan.
Lebih jauh ia menambahkan, dalam pendidikan itu sendiri yang dibangun adalah dua sisi yaitu intelektualnya terjaga dan bisa dikembangkan serta mental attitude atau karakternya terpelihara karena karakter itu sendiri adalah akhlak. Katanya, dalan program pendidikan yang dijalankannya, pihaknya melakukan pembiasaan kepada siswa-siswanya. Tidak di situ saja, rupanya pengembangan potensi soft skill yang dimiliki para siswa. Merupakan hal yang cukup penting pula untuk diperhatikan. Soft skill adalah semacam ketangguhan, keuletan, keluwesan juga kemandirian. Oleh karenanya, maka tak heran bila soft skill itu mendominasi para murid sebesar 80 % sementara akademik hanya 20 %. “Nah Agar menciptakan siswa yang handal dan unggul, maka saatnya kita membahanakan pola pendidian Rasulullah SAW dengan mengedepankan keteladan Keteladanan, motivasi, keterampilan dan pembiasaan,” tambahnya kemudian.
Kata Nandang, kepintaran yang tidak dimbangi dengan soft skill tadi maka akan menghasilkan orang-orang yang selalu akan membolak balikkan fakta dan bahkan bisa menjadi menjadi penjahat ulung. “Anda bisa lihat, banyak orang pintar di negeri ini tetapi mengapa kasus korupsi malah semakin merajalela ?”
Untuk menyukseskan pendidikan di tanah air, ia mengatakan harus ada sinergisiatas antara |Permerintah dan Masyarakat. Jika Mendikbud telah mencanangkan program pendidikan karakter. Justeru pendidikan karakter Islami ini di Darul Hikam telah dfilakukan sejak tahun 1966
Menurutnya, hal ini akan terwujud apalagi Pemerintah dengan berbagai upaya telah bekerja keras dan sumber dana sebesar 20 % dari APB sudah singnifikan. Selanjutnya yang harus dilakukan adalah upaya sinergis dari berabgai lini, termasuk sinergisitas natara Pemerintah dan masyarakat. Jika itu tercipta secara baiuk maka Pemerintah akan merasakan hasilnya nanti,” pungkasnya menutup perbincangan.
74 Nasehat tuk Pemuda
Segala
puji bagi Allah yang berfirman:“Dan sungguh Kami telah memerintahkan
orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu;
bertakwalah kepada Allah.” (An-Nisa’: 131)
Serta shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada hamba dan rasul-Nya Muhammad yang bersabda:
“Aku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah , serta agar kalian mendengar dan patuh.”
Dan takwa kepada Allah adalah mentaati-Nya dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Wa ba’du:
Berikut ini adalah wasiat islami yang berharga dalam berbagai aspek
seperti ibadah, muamalah, akhlak, adab dan yang lainnya dari sendi-sendi
kehidupan. Kami persembahkan wasiat ini sebagai peringatan kepada para
pemuda muslim yang senantiasa bersemangat mencari apa yang bermanfaat
baginya, dan sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang
yang beriman. Kami memohon kepada Allah agar menjadikan hal ini
bermanfaat bagi orang yang membacanya ataupun mendengarkannya. Dan agar
memberikan pahala yang besar bagi penyusunnya, penulisnya, yang
menyebarkannya ataupun yang mengamalkannya. Cukuplah bagi kita Allah
sebaik-baik tempat bergantung.
1. Ikhlaskanlah niat kepada Allah dan hati-hatilah dari riya’ baik dalam perkataan ataupun perbuatan.
2. Ikutilah sunnah Nabi dalam semua perkataan, perbuatan, dan akhlak.
3. Bertaqwalah kepada Allah dan ber’azamlah untuk melaksanakan semua perintah dan menjauhi segala larangan-Nya.
4. Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat nashuha dan perbanyaklah istighfar.
5. Ingatlah bahwa Allah senatiasa mengawasi gerak-gerikmu. Dan
ketahuilah bahwa Allah melihatmu, mendengarmu dan mengetahui apa yang
terbersit di hatimu.
6. Berimanlah kepada Allah, malaikat-Nya,
kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir serta qadar yang baik
ataupun yang buruk.
7. Janganlah engkau taqlid (mengekor)
kepada orang lain dengan buta (tanpa memilih dan memilah mana yang baik
dan yang buruk serta mana yang sesuai dengan sunnah/syari’at dan mana
yang tidak). Dan janganlah engkau termasuk orang yang tidak punya
pendirian.
8. Jadilah engkau sebagai orang pertama dalam
mengamalkan kebaikan karena engkau akan mendapatkan pahalanya dan pahala
orang yang mengikuti/mencontohmu dalam mengamalkannya.
9.
Peganglah kitab Riyadlush Shalihin, bacalah olehmu dan bacakan pula
kepada keluargamu, demikian juga kitab Zaadul Ma’ad oleh Ibnul Qayyim.
10. Jagalah selalu wudlu’mu dan perbaharuilah. Dan jadilah engkau senantiasa dalam keadaan suci dari hadats dan najis.
11. Jagalah selalu shalat di awal waktu dan berjamaah di masjid terlebih lagi sahalat ‘Isya dan Fajr (shubuh).
12. Janganlah memakan makanan yang mempunyai bau yang tidak enak
seperti bawang putih dan bawang merah. Dan janganlah merokok agar tidak
membahayakan dirimu dan kaum muslimin.
13. Jagalah selalu shalat berjamaah agar engkau mendapat kemenangan dengan pahala yang ada pada shalat berjamaah tersebut.
14. Tunaikanlah zakat yang telah diwajibkan dan janganlah engkau bakhil kepada orang-orang yang berhak menerimanya.
15. Bersegeralah berangkat untuk shalat Jumat dan janganlah
berlambat-lambat sampai setelah adzan kedua karena engkau akan berdosa.
16. Puasalah di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap
pahala dari Allah agar Allah mengampuni dosa-dosamu baik yang telah lalu
ataupun yang akan datang.
17. Hati-hatilah dari berbuka di siang hari di bulan Ramadhan tanpa udzur syar’i sebab engkau akan berdosa karenanya.
18. Tegakkanlah shalat malam (tarawih) di bulan Ramadhan terlebih-lebih
pada malam lailatul qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala
dari Allah agar engkau mendapatkan ampunan atas dosa-dosamu yang telah
lalu.
19. Bersegeralah untuk haji dan umrah ke Baitullah Al-Haram jika engkau termasuk orang yang mampu dan janganlah menunda-nunda.
20. Bacalah Al-Qur’an dengan mentadaburi maknanya. Laksanakanlah
perintahnya dan jauhi larangannya agar Al-Qur’an itu menjadi hujjah
bagimu di sisi rabmu dan menjadi penolongmu di hari qiyamat.
21. Senantiasalah memperbanyak dzikir kepada Allah baik perlahan-lahan
ataupun dikeraskan, apakah dalam keadaan berdiri, duduk ataupun
berbaring. Dan hati-hatilah engkau dari kelalaian.
22. Hadirilah majelis-majelis dzikir karena majelis dzikir termasuk taman surga.
23. Tundukkan pandanganmu dari aurat dan hal-hal yang diharamkan dan
hati-hatilah engkau dari mengumbar pandangan, karena pandangan itu
merupakan anak panah beracun dari anak panah Iblis.
24. Janganlah engkau panjangkan pakaianmu melebihi mata kaki dan janganlah engkau berjalan dengan kesombongan/keangkuhan.
25. Janganlah engkau memakai pakaian sutra dan emas karena keduanya diharamkan bagi laki-laki.
26. Janganlah engkau menyeruapai wanita dan janganlah engkau biarkan wanita-wanitamu menyerupai laki-laki.
27. Biarkanlah janggutmu karena Rasulullah: “Cukurlah kumis dan panjangkanlah janggut.” (HR. Bukhari Dan Muslim)
28. Janganlah engkau makan kecuali yang halal dan janganlah engkau minum kecuali yang halal agar doamu diijabah.
29. Ucapkanlah "bismillah" ketika engkau hendak makan dan minum dan ucapkanlah "alhamdulillah" apabila engkau telah selesai.
30. Makanlah dengan tangan kanan, minumlah dengan tangan kanan, ambillah dengan tangan kanan dan berilah dengan tangan kanan.
31. Hati-hatilah dari berbuat kezhaliman karena kezhaliman itu merupakan kegelapan di hari kiamat.
32. Janganlah engkau bergaul kecuali dengan orang mukmin dan janganlah
dia memakan makananmu kecuali engkau dalam keadaan bertaqwa (dengan
ridla dan memilihkan makanan yang halal untuknya).
33.
Hati-hatilah dari suap-menyuap (kolusi), baik itu memberi suap, menerima
suap ataupun perantaranya, karena pelakunya terlaknat.
34. Janganlah engkau mencari keridlaan manusia dengan kemurkaan Allah karena Allah akan murka kepadamu.
35. Ta’atilah pemerintah dalam semua perintah yang sesuai dengan syari’at dan doakanlah kebaikan untuk mereka.
36. Hati-hatilah dari bersaksi palsu dan menyembunyikan persaksian.
“Barangsiapa yang menyembunyikan persaksiannya maka hatinya berdosa.
Dan Allah maha mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (Al-Baqarah: 283)
37. “Dan ber amar ma’ruf nahi munkarlah serta shabarlah dengan apa yang menimpamu.” (Luqman: 17)
Ma’ruf adalah apa-apa yang diperintahkan oleh Allah dan rasul-Nya , dan
munkar adalah apa-apa yang dilarang oleh Allah dan rasul-Nya.
38. Tinggalkanlah semua hal yang diharamkan baik yang kecil ataupun yang
besar dan janganlah engkau bermaksiat kepada Allah dan janganlah
membantu seorangpun dalam bermaksiat kepada-Nya.
39. Janganlah
engkau dekati zina. Allah berfirman: “Janganlah kalian mendekati zina.
Sesungguhnya zina itu adalah kekejian dan sejelek-jelek jalan.”
(Al-Isra’:32)
40. Wajib bagimu berbakti kepada orang tua dan hati-hatilah dari mendurhakainya.
41. Wajib bagimua untuk silaturahim dan hati-hatilah dari memutuskan hubungan silaturahim.
42. Berbuat baiklah kepada tetanggamu dan janganlah menyakitinya. Dan apabila dia menyakitimu maka bersabarlah.
43. Perbanyaklah mengunjungi orang-orang shalih dan saudaramu di jalan Allah.
44. Cintalah karena Allah dan bencilah juga karena Allah karena hal itu merupakan tali keimanan yang paling kuat.
45. Wajib bagimu untuk duduk bermajelis dengan orang shalih dan hati-hatilah dari bermajelis dengan orang-orang yang jelek.
46. Bersegeralah untuk memenuhi hajat (kebutuhan) kaum muslimin dan buatlah mereka bahagia.
47. Berhiaslah dengan kelemahlembutan, sabar dan teliti. Hatilah-hatilah dari sifat keras, kasar dan tergesa-gesa.
48. Janganlah memotong pembicaraan orang lain dan jadilah engkau pendengar yang baik.
49. Sebarkanlah salam kepada orang yang engkau kenal ataupun tidak engkau kenal.
50. Ucapkanlah salam yang disunahkan yaitu "assalamualaikum" dan tidak
cukup hanya dengan isyarat telapak tangan atau kepala saja.
51. Janganlah mencela seorangpun dan mensifatinya dengan kejelekan.
52. Janganlah melaknat seorangpun termasuk hewan dan benda mati.
53. Hati-hatilah dari menuduh dan mencoreng kehormatan oarng lain karena hal itu termasuk dosa yang paling besar.
54. Hati-hatilah dari namimah (mengadu domba), yakni menyampaikan
perkataan di antara manusia dengan maksud agar terjadi kerusakan di
antara mereka.
55. Hati-hatilah dari ghibah, yakni engkau menceritakan tentang saudaramu apa-apa yang dia benci jika mengetahuinya.
56. Janganlah engkau mengagetkan, menakuti dan menyakiti sesama muslim.
57. Wajib bagimu melakukan ishlah (perdamaian) di antara manusia karena hal itu merupakan amalan yang paling utama.
58. Katakanlah hal-hal yang baik, jika tidak maka diamlah.
59. Jadilah engkau orang yang jujur dan janganlah berdusta karena dusta
akan mengantarkan kepada dosa dan dosa mengantarakan kepada neraka.
60. Janganlah engkau bermuka dua. Datang kepada sekelompok dengan satu wajah dan kepada kelompok lain dengan wajah yang lain.
61. Janganlah bersumpah dengan selain Allah dan janganlah banyak bersumpah meskipun engkau benar.
62. Janganlah menghina orang lain karena tidak ada keutamaan atas seorangpun kecuali dengan taqwa.
63. Janganlah mendatang dukun, ahli nujum serta tukang sihir dan jangan membenarkan (perkataan) mereka.
64. Janganlah menggambar gambar manuasia dan binatang. Sesungguhnya
manusia yang paling keras adzabnya pada hari kiamat adalah tukang
gambar.
65. Janganlah menyimpan gambar makhluk yang bernyawa di rumahmu karena akan menghalangi malaikat untuk masuk ke rumahmu.
66. Tasymitkanlah orang yang bersin dengan membaca: "yarhamukallah" apabila dia mengucapkan: "alhamdulillah"
67. Jauhilah bersiul dan tepuk tangan.
68. Bersegeralah untuk bertaubat dari segala dosa dan ikutilah
kejelekan dengan kebaikan karena kebaikan tersebut akan menghapuskannya.
Dan hati-hatilah dari menunda-nunda.
69. Berharaplah selalu akan ampunan Allah serta rahmat-Nya dan berbaik sangkalah kepada Allah .
70. Takutlah kepada adzab Allah dan janganlah merasa aman darinya.
71. Bersabarlah dari segala mushibah yang menimpa dan bersyukurlah dengan segala kenikamatan yang ada.
72. Perbanyaklah melakukan amal shalih yang pahalanya terus mengalir
meskipun engkau telah mati, seperti membangun masjid dan menyebarakan
ilmu.
73. Mohonlah surga kepada Allah dan berlindunglah dari nereka.
74. Perbanyaklah mengucapkan shalawat dan salam kepada Rasulullah.
Shalawat dan salam senantiasa Allah curahkan kepadanya sampai hari kiamat juga kepada keluarganya dan seluruh shahabatnya.
kiriman:facebook.com/lazwardi.rahman
Selasa, 25 September 2012
Rohis Disudutkan, Tawuran Membuktikan!
BELUM
selesai telinga kita mendengar tudingan miring yang
dilayangkan oleh sebagian pihak kepada kegiatan elemen Kerohanian Islam
(Rohi), kini jagad pendidikan negeri kita kembali diguncang dengan
kasu. tawuran pelajar antara siswa SMAN 6 dan SMAN 70 Jakarta, di
kawasan Bulungan, tidak jauh dari Blok M Plaza, pada Senin (24/9)
kemarin.
Tawuran ini menyebabkan Alawy, siswa SMA 6 kelas X berusia 15 tahun, tewas akibat terkena bacok di bagian dada.
Menurut saksi, ketika tawuran terjadi, Alawy saat itu sedang makan gulai di tikungan Bulungan. Melihat ada tawuran, dia lantas berlari menyelamatkan diri bersama teman-temannya. Namun naas terjadi. Dia terjatuh di depan KFC Bulungan dan langsung mendapat sabetan celurit di dadanya. Remaja kelahiran 1997 itu pun meninggal dunia. (detik.com/25-09-2012)
Peristiwa ini membuktikan, betapa menyedihkannya pendidikan negara kita. Terutama masalah karakter. Aspek ‘pendidikan akhlak’ dan ‘budi pekerti’ terhadap siswa di sekolah masih sangat kurang. Bayangkanlah bersama, seorang pelajar dengan bangga membawa clurit dan melukai orang lain hingga meninggal. Pantaskah ia disebut orang terpelajar atau berpendidikan?
Lebih ironisnya, peristiwa ini terjadi selang sehari setelah ribuan anak –anak Rohis melakukan aksi damai di bundaran Hotel Indonesia (HI), untuk menentang stigma teroris yang ditudingkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melalui salah satu stasiun televisi.
Peristiwa tawuran pelajar ini, sekali lagi membuktikan ada yang salah dunia pendidikan kita. Lagi pula semakin menunjukkan, ketidakseriuan pemerintah dalam memprioritaskan pendidikan dan membina karakter generasi bangsa.
Jujur saja, sebagai orang yang pernah melewati masa-masa belajar, aspek ‘pendidikan’ agama, satunya-satunya aspek yang dianggap paling bisa membangun karakter siswa, masih belum mendapatkan porsi yang relevan dalam sistem dan realita pendidikan kita.
Lihat saja, pendidikan agama di sekolah-sekolah umum masih sangat minim. Hanya 2 jam pelajaran saja per pekan. Dengan porsi seminim ini, tentu sangat sulit bagi pemerintah untuk mewujudkan generasi bangsa yang berkarakter dan berdedikasi.
Pasalnya, di negara kita ini, bukan kali pertama mengenal istilah ‘tawuran pelajar’, fenomena tawuran ini bahkan sudah sangat akrab di kalangan siswa-siswa kita. Terutama para pelajar SLTP, SMK dan bahkan mahasiswa.
Tawuran pelajar ini jelas tindak premanisme dan teror. Karena sudah meresahkan masyarakat luas. Apalagi sudah memakan korban jiwa. Apapun kegiatan yang meresahkan dan menimbulkan rasa tidak aman bagi masyarakat jelas-jelas teror.
Sungguh berbanding terbalik dengan kegiatan anak-anak Rohis di masjid-masjid sekolah mereka.
Sayang, para stake-holder negeri ini, lebih curiga pada anak-anak di masjid daripada yang membawa clurit di jalanan. Para pelajar yang mendapatkan ekstra-kurikuler keagamaan di luar jam pelajaran resmi sekolah dalam bentuk Rohis yang sangat concern terhadap dakwah Islam, da sepengetahuan dan pengawasan pihak sekolah justri lebih dicurigai dan mendapat stigma.
Bahkan, Rohis yang diajari bertindak sopan pada guru, orangtua, taat beribadah, justru pernah diusulkan dilarang.
Kajadian tawuran pelajar yang baru saja terjadi telah membuktikan pada kita semua bahwa Rohis adalah solusi, bukan polusi. Karenanya, ia harus menjadi salah –satu alternative agar mampu menjadi problem solver dari fenomena-fenomena tawuran, seks bebas, narkoba, minuman keras dan semacamnya di kalangan remaja kita.
Sekali lagi, musibah ini, semakin membuktikan, bahwa hanya pendidikan Islam-lah yang memiliki sistem dan konsep yang komperhensif dan integral dalam membina manusia. Dan bahwa hanya sistem pendidikan Islam yang Rabbaniyah-lah yang benar-benar bisa mendidik generasi bangsa menjadi generasi yang shaleh dan berdaya guna. Berkarakter dan unggul.
Peristiwa-peristiwa kenakalan remaja, termasuk tawuran ini, juga membuktikan bahwa pendidikan sekuler yang di jalankan oleh negara selama ini hanyalah semu dan palsu. Yang dikhawatirkan justru akan sangat membahayakan negara pada suatu hari nanti.
Kini, saatnya pemerintah harus benar-benar mengkaji ulang implementasi pendidikan karakter dan budi pekerti di sekolah. Pemerintah, orangtua, lingkungan dan pihak sekolah harus secepatnya merealisasikan dan mengaodbsi kegiatan Rohis dalam pola kegiatan dan pembelajarannya. Karena hanya inilah sistem pendidikan yang bergaransi. yang telah melahirkan generasi-generasi unggul, berkarakter dan berdedikasi tinggi sepanjang peradaban ummat. Sebagai penutup, bukti sudah menunjukkan, “Rohis disudutkan, tawuran membuktikan!”
Penulis adalah Mahasiswa STAI Al-Hidayah Bogor
copas:hidayatullah.com/
Tawuran ini menyebabkan Alawy, siswa SMA 6 kelas X berusia 15 tahun, tewas akibat terkena bacok di bagian dada.
Menurut saksi, ketika tawuran terjadi, Alawy saat itu sedang makan gulai di tikungan Bulungan. Melihat ada tawuran, dia lantas berlari menyelamatkan diri bersama teman-temannya. Namun naas terjadi. Dia terjatuh di depan KFC Bulungan dan langsung mendapat sabetan celurit di dadanya. Remaja kelahiran 1997 itu pun meninggal dunia. (detik.com/25-09-2012)
Peristiwa ini membuktikan, betapa menyedihkannya pendidikan negara kita. Terutama masalah karakter. Aspek ‘pendidikan akhlak’ dan ‘budi pekerti’ terhadap siswa di sekolah masih sangat kurang. Bayangkanlah bersama, seorang pelajar dengan bangga membawa clurit dan melukai orang lain hingga meninggal. Pantaskah ia disebut orang terpelajar atau berpendidikan?
Lebih ironisnya, peristiwa ini terjadi selang sehari setelah ribuan anak –anak Rohis melakukan aksi damai di bundaran Hotel Indonesia (HI), untuk menentang stigma teroris yang ditudingkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melalui salah satu stasiun televisi.
Peristiwa tawuran pelajar ini, sekali lagi membuktikan ada yang salah dunia pendidikan kita. Lagi pula semakin menunjukkan, ketidakseriuan pemerintah dalam memprioritaskan pendidikan dan membina karakter generasi bangsa.
Jujur saja, sebagai orang yang pernah melewati masa-masa belajar, aspek ‘pendidikan’ agama, satunya-satunya aspek yang dianggap paling bisa membangun karakter siswa, masih belum mendapatkan porsi yang relevan dalam sistem dan realita pendidikan kita.
Lihat saja, pendidikan agama di sekolah-sekolah umum masih sangat minim. Hanya 2 jam pelajaran saja per pekan. Dengan porsi seminim ini, tentu sangat sulit bagi pemerintah untuk mewujudkan generasi bangsa yang berkarakter dan berdedikasi.
Pasalnya, di negara kita ini, bukan kali pertama mengenal istilah ‘tawuran pelajar’, fenomena tawuran ini bahkan sudah sangat akrab di kalangan siswa-siswa kita. Terutama para pelajar SLTP, SMK dan bahkan mahasiswa.
Tawuran pelajar ini jelas tindak premanisme dan teror. Karena sudah meresahkan masyarakat luas. Apalagi sudah memakan korban jiwa. Apapun kegiatan yang meresahkan dan menimbulkan rasa tidak aman bagi masyarakat jelas-jelas teror.
Sungguh berbanding terbalik dengan kegiatan anak-anak Rohis di masjid-masjid sekolah mereka.
Sayang, para stake-holder negeri ini, lebih curiga pada anak-anak di masjid daripada yang membawa clurit di jalanan. Para pelajar yang mendapatkan ekstra-kurikuler keagamaan di luar jam pelajaran resmi sekolah dalam bentuk Rohis yang sangat concern terhadap dakwah Islam, da sepengetahuan dan pengawasan pihak sekolah justri lebih dicurigai dan mendapat stigma.
Bahkan, Rohis yang diajari bertindak sopan pada guru, orangtua, taat beribadah, justru pernah diusulkan dilarang.
Kajadian tawuran pelajar yang baru saja terjadi telah membuktikan pada kita semua bahwa Rohis adalah solusi, bukan polusi. Karenanya, ia harus menjadi salah –satu alternative agar mampu menjadi problem solver dari fenomena-fenomena tawuran, seks bebas, narkoba, minuman keras dan semacamnya di kalangan remaja kita.
Sekali lagi, musibah ini, semakin membuktikan, bahwa hanya pendidikan Islam-lah yang memiliki sistem dan konsep yang komperhensif dan integral dalam membina manusia. Dan bahwa hanya sistem pendidikan Islam yang Rabbaniyah-lah yang benar-benar bisa mendidik generasi bangsa menjadi generasi yang shaleh dan berdaya guna. Berkarakter dan unggul.
Peristiwa-peristiwa kenakalan remaja, termasuk tawuran ini, juga membuktikan bahwa pendidikan sekuler yang di jalankan oleh negara selama ini hanyalah semu dan palsu. Yang dikhawatirkan justru akan sangat membahayakan negara pada suatu hari nanti.
Kini, saatnya pemerintah harus benar-benar mengkaji ulang implementasi pendidikan karakter dan budi pekerti di sekolah. Pemerintah, orangtua, lingkungan dan pihak sekolah harus secepatnya merealisasikan dan mengaodbsi kegiatan Rohis dalam pola kegiatan dan pembelajarannya. Karena hanya inilah sistem pendidikan yang bergaransi. yang telah melahirkan generasi-generasi unggul, berkarakter dan berdedikasi tinggi sepanjang peradaban ummat. Sebagai penutup, bukti sudah menunjukkan, “Rohis disudutkan, tawuran membuktikan!”
Penulis adalah Mahasiswa STAI Al-Hidayah Bogor
copas:hidayatullah.com/
Langganan:
Postingan (Atom)


