Tampilkan postingan dengan label pangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pangan. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Oktober 2012

Cukupkah Pangan Untuk Bangsa Indonesia?

Cukupkah Pangan Untuk Bangsa Indonesia?Demikian penggalan inti dari Pidato Wakil Presiden (Wapres) RI pada acara Pembukaan Hari Pangan Sedunia (HPS)  tanggal 20 Oktober 2011 di Kabupaten Bone Bolango, provinsi Gorontalo. Kunjungan Wapres pada acara HPS tersebut disertai Menteri Pertanian, Perwakilan FAO James Mc Grane, perwakilan 21 negara sahabat, serta sejumlah Gubernur di Indonesia. Saat ini penduduk dunia mencapai hampir 7 milyar orang dan tahun 2050 diperkirakan mencapai 9 milyar orang. Kita belum aman dalam hal penyediaan pangan, ke depan kerawanan pangan akan terus menghantui kita.
Wapres mengatakan untuk mengatasi kerawanan pangan diperlukan pemanfaatan teknologi yang tepat dan pengelolaan sumberdaya yang baik untuk menghasilkan pangan yang cukup bagi bangsa Indonesia.
Pada Acara HPS tersebut Badan Litbang Pertanian menampilkan berbagai inovasi teknologi yang dikelompokkan pada empat cluster yaitu 1. Cluster Rumah Pangan Lestari (RPL), 2. Cluster Pangan Fungsional, 3. Cluster Swasembada Pangan, dan 4. Cluster Tanaman Obat dan Aromatik.
Dalam kunjungan Wapres ke lahan Gelar Teknologi Badan Litbang Pertanian, beliau sangat tertarik dengan penampilan berbagai tanaman sayuran dan biofarmaka yang ada di hamparan RPL. Selain itu, Wapres berkesempatan mendengarkan penjelasan tentang kemajuan penelitian kedelai, padi dan jagung. Pada kesempatan ini Wapres sempat memetik polong kedelai muda dan memakannya. Pada tanaman jagung, Wapres sempat memegang tanaman jagung yang memiliki tongkol dua dan berdiskusi dengan peneliti jagung.  Hal yang menarik dari acara HPS tersebut, Wapres sangat memperhatikan kemajuan riset di bidang pertanian dan bagaimana hasil riset tersebut segera disebarkan kepada petani serta sampai di lahan petani.
Sumber : Pusat Penelitian Tanaman Pangan

Sabtu, 06 Oktober 2012

MUI: Bekicot Haram


Setelah melakukan eksplorasi yang komprehensif, dan kajian yang mendalam terhadap Qaul (pendapat) dari Jumhur Ulama  (para ulama, mayoritas imam Madzhab  terkemuka) Komisi Fatwa (KF) MUI menetapkan fatwa tentang bekicot pada Sidang KF yang baru lalu di Jakarta. Dalam hal ini ada dua ketetapan. Pertama, “Bekicot itu haram untuk dikonsumsi secara umum, “ ujar Ketua Komisi Fatwa MUI, Prof.Dr.H. Hasanuddin AF, MA sebagaimana dikutip dari Halal MUI.
Menurut Qaul dari Jumhur Ulama, jelasnya lagi, bekicot itu termasuk kategori Hasyarot, dan hasyarot itu haram untuk dikonsumsi. “Kami di MUI mengambil pendapat ini. Walaupun memang ada sebagian kecil Ulama Salaf yang berpendapat lain,” tambahnya.
Maka kami mengingatkan umat agar memahami fatwa ini. Karena di sebagian masyarakat ada yang mengolah bekicot menjadi menu konsumsi, seperti sate bekicot. Termasuk juga menu Escargot, yang terkenal di Eropa. Haram bagi umat Islam untuk mengkonsumsinya. Demikian ditandaskan oleh Ketua KF MUI ini.
Memang, kini di Eropa, utamanya, bekicot sering digunakan sebagai bahan baku makanan yang disebut Escargot. Menu Escargot semula menggunakan bahan baku Helix pomatia (jenis siput yang dapat dimakan dari daratan Eropa). Karena Helix pomatia lama kelamaan sulit diperoleh, maka bekicot jenis Achatina fulica yang relatif lebih mudah dikembang-biakkan, menggantikannya sebagai bahan baku Escargot.
Boleh Intifa’
Ketetapan kedua, berkenaan dengan intifa’ (pemanfaatan) bekicot untuk penggunaan luar. Dalam Sidang KF MUI yang lalu itu juga ditetapkan, Intifa’ atau pemanfaatan bekicot untuk penggunaan di luar tubuh diperbolehkan. Seperti untuk kosmetika luar. Termasuk juga penggunaan untuk obat kalau memang betul-betul diperlukan berdasarkan hasil penelitian medis kedokteran. Dalam hal ini berlaku kaidah Haajiyat, yakni kebutuhan yang memang sangat diperlukan untuk pengobatan, selama belum ada alternatif bahan penggantinya.
Pemanfaatan itu seperti pada kulit bangkai. Pada dasarnya, bangkai itu haram dikonsumsi. Seperti bangkai kambing atau bangkai sapi. Tapi kalau disamak, kulitnya menjadi suci dan boleh dimanfaatkan, misalnya untuk alas kaki, sepatu dan peralatan lainnya. Jadi dari sini memang dapat dipahami, bahwa tidak semua yang haram itu bersifat najis. Demikian Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta ini menambahkan penjelasannya.
Namun hukumnya tetap, kulit dari bangkai yang telah disamak itu tidak boleh untuk dikonsumsi. “jadi, memang ada perbedaan fatwa tentang bekicot ini, dalam hal pemanfaatan dengan untuk dikonsumsi,” tandasnya.
[muslimdaily.net/halalmui]

Minggu, 30 September 2012

‘Berita Besar’ : Untuk Negeri Kita Kah…?

Sebelum sampai ayat “wa jannaatin alfaafa” (QS 78 : 16), Al-Qur’an bercerita tentang gunung-gunung  (QS 78 :7) , tentang perimbangan malam dan siang (QS 78 :10-11) , tentang sinar matahari yang amat terang (QS 78 :13) , tentang air hujan yang tercurah (Qs 78 :14), tentang berbagai biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan (QS  78 :15).

Sekarang mari kita lihat di antara negeri-negeri di dunia, negeri mana yang diberi karunia lengkap tersebut diatas ?, memiliki gungung-gunung yang banyak, malamnya seimbang dengan siangnya, matahari memancarkan sinarnya sepanjang tahun, memiliki hujan yang tercurah lebat rata-rata separuh waktu dalam setahun dan memiliki keanekaragaman tanaman yang luar biasa ? Bukankah ini sangat-sangat mirip dengan karakter negeri kita – Indonesia ?.

Negeri Arab tempat diturunkannya Al-Qur’an tidak memiliki gunung-gunung yang banyak, tidak banyak air hujan yang tercurah, dan apalagi tanaman – sangat sedikit yang tumbuh disana dibandingkan dengan apa yang ditumbuhkan oleh Sang Pencipta untuk negeri ini.

Peta Gunung Berapi Dunia
Peta Gunung Berapi Dunia

Negeri-negeri yang saat ini memimpin dunia dengan teknologi, ekonomi, politik dan militernya saat ini rata-rata berada di belahan bumi utara, kebanyakn negeri subtropics. Negeri mereka tidak menerima pancaran sinar matahari sebanyak yang kita punya, malam dan siang mereka sering tidak seimbang.

Negeri lain di Afrika yang berada sama dengan kita di jalur katulistiwa, mereka rata-rata sangat sedikit menerima hujan, sehingga sedikit pula jenis-jenis tanaman yang tumbuh di negerinya. Yang agak mirip kita adalah negeri-negeri kahtulistiwa di Amerika Selatan, namun karena mereka tidak dikelilingi laut sebanyak yang kita punya – maka curah hujan dan keaneka ragaman hayatinya tetap tidak sebanyak yang dikaruniakan olehNya untuk negeri ini.

Dengan semua karunia ini, mengapa bukan kita yang memimpin dunia dalam hal kemakmuran ?. Inilah yang perlu kita renungkan dan inilah tantangan besar kita semua. Barangkali kita selama ini tidak menyadari betapa banyaknya karunia negeri ini, karena tidak menyadari maka tidak pula mensyukurinya, kemudian karena tidak mensyukurinya maka nikmat itu dicabutlah dari negeri ini.

Di negeri yang siang dan malamnya seimbang ini, musim kering dan musim hujannya-pun (dulunya) seimbang –  kita malah tidak bisa mencukupi kebutuhan kita sendiri. Kita masih harus begitu banyak impor kebutuhan pokok mulai dari beras , gandum, susu, daging dan entah apalagi.

Lantas dari mana kita bisa mulai berbuat yang seharusnya untuk memakmurkan negeri ini ? tidak ada yang lebih baik selain mulai dari diri kita, mulai dari yang kita bisa. Mulai merubah mindset, bahwa prestasi untuk negeri bukan ketika kita mencapai karir tinggi di perusahaan asing, institusi asing atau kepentingan asing yang meng-eksploitasi negeri ini. Prestasi adalah apabila kita bisa mengolah dan memakmurkan bumi negeri ini untuk memenuhi kebutuhan minimal penduduknya sendiri, syukur bisa untuk penduduk negeri lain yang tidak seberuntung kita dalam hal kekayaan alamnya.

Prestasi bukan ketika ekonomi tumbuh tetapi pertumbuhnya dari sector konsumsi dari produk-produk yang harus diimport dari negeri lain, bukan pula dari pengerukan sumber daya alam yang tidak terbarukan. Prestasi harus didasarkan pada produksi - setidaknya untuk menutup kebutuhan sendiri, prestasi adalah ketika kita dapat mengolah alam secara berkesinambungan.

Inisiatif-inisiatif kecil sedang kita mulai, di Jonggol kita ada pilot project untuk ‘menangkap’ berkah air hujan, di Blitar kita ada project penyiapan benih-benih pohon secara massal yang nantinya bisa ditanam dimana saja yang membutuhkannya, di lereng Merapi kita ada upaya untuk ikut membesarkan dan menyebarluaskan pencapaian-pencapaian pakar Alfaafa  Dr. Nugroho yang sudah sangat jauh mengembangkannya sejak beberapa tahun lalu.
Sinergi Dalam Pengembangan Alfaafa
Sinergi Dalam Pengembangan Alfaafa

Allah sedang berbicara kepada kita melalui ayat-ayat tersebut diatas ,  semoga kita bisa bener-bener mendengar firmanNya, memahaminya dan mulai berbuat yang seharusnya sesuai petunjukNya, InsyaAllah.
copas:www.geraidinar.com