Tampilkan postingan dengan label kisah sukses. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah sukses. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Oktober 2012

Dari Embargo ke Organic


Oleh Muhaimin Iqbal/Direktur Gerai Dinar

Sekitar 50 tahun lalu suatu negeri pulau kecil mulai diembargo oleh negeri terkaya di dunia yang hanya berbatas laut dengannya. Negeri pulau kecil ini adalah Cuba dan yang memimpin embargo adalah salah satu tetangga terdekatnya yaitu Amerika Serikat. Setelah hampir setengah abad negeri yang diembargo itu hidup dalam segala keterbatasan, kini negeri yang memimpin embargo itu dan juga negeri-negeri lain mulai berbalik mengambil pelajaran darinya.
Hampir tiga dekade sejak diembargo, untuk memenuhi kebutuhan negerinya Cuba menggantungkan diri pada perdagangan bersubsidi dari negeri-negeri blok timur dibawah pimpinan USSR. Tetapi USSR sendiri runtuh pada tahun 1991, yang membuat kondisi Cuba tambah runyam.
Paska keruntuhan USSR, ekonomi Cuba ikut mengkerut sampai 35%. Sejalan dengan pengkerutan ekonomi yang luar biasa ini, kelaparan meluas di seluruh negeri. Konsumsi rata-rata penduduk turun sekitar 1/3 nya dari rata-rata 3,052 kalori/harisebelum keruntuhan USSR menjadi tinggal 2,099 kalori/hari pasca keruntuhan. Padahal jumlah kalori minimum agar orang tidak sampai kelaparan adalah 2,100 – 2,300 kalori/hari, maka saat itu boleh dibilang secara nasional Cuba menjadi negeri yang kelaparan.
Mengapa tiga dekade Cuba bisa survive tetapi tiba-tiba kelaparan bersamaan dengan runtuhnya USSR? Inilah pelajaran pertamanya yaitu karena Cuba terlalu bergantung pada impor – kususnya impor minyak dari USSR dan negeri-negeri blok timur lainnya. Saat itu impor minyak Cuba turun dari 14 juta ton /tahun menjadi tinggal sekitar 4 juta ton/tahun.

Dampak dari penurunan supply minyak ini, giliran listrik mati bisa mencapai 16 jam per hari. Transportasi tidak bisa berjalan, mesin-mesin produksi dan pertanian berhenti karena semua tidak mendapatkan bahan bakarnya secara cukup.
Tetapi dari sinilah pelajaran kedua muncul, yaitu janji Allah bahwa semua makhluk hidup mendapatkan jatah rezekinya (QS 11 :6), tidak terkecuali penduduk di negeri yang tidak mengenal Tuhan sekalipun seperti Cuba ini. Setelah tiga dekade bergantung pada import bersubsidi dari negeri komunis, satu dekade import dan subsidinya negeri satu blok menghilang, maka satu dekade terakhir bukti bahwa rezeki tersedia cukup bagi semua makhluk itu begitu jelas nampak pada mereka.
Keterbatasan bahan bakar minyak membuat penduduk negeri itu meninggalkan mobil dan menggunakan kendaraan umum, jutaan sepeda menjadi kendaraan baru bagi masyarakat, dan kendaraan-kendaraan pejabat pemerintah menjadi tumpangan bagi rakyat yang memerlukannya.
Lebih dari itu Cuba bangkit dengan pertaniannya yang bagi negeri-negeri lain yang maju sekalipun masih berupa teori. Tidak kurang dari 80% produk pertanian negeri itu kini organic, dihasilkan melalui apa yang disebut permaculturedan community farm.
Permacultureintinya adalah ecological designdan ecological engineeringyang mengembangkan sistem pertanian yang self-sustainablemeniru ecosystemdi alam, untuk menopangkehidupan penghuni bumi ini secara berkelanjutan.
Ada tiga hal yang menjadi titik perhatian dari permacultureyaitu memelihara apa yang ada di alam, menjaga manusia yang tinggal di dalamnya dan menyeimbangkan populasi dengan ketersediaan konsumsi.
Kini banyak orang-orang dari negeri maju belajar dari Cuba yang tidak lagi kelaparan, tingkat konsumsi mereka telah meningkat ke angka 2,600-an kalori/hari, jauh di atas kebutuhan minimal agar orang tidak kelaparan. Bukan hanya tidak kelaparan, dengan permaculture, commmunity farm dan bahan pangan organic-nya yang luar biasa – mereka kini memiliki variasi bahan pangan yang lebih banyak dan lebih sehat dibandingkan dengan negara-negara lain yang maju sekalipun.
Ketika bahan bakar, pupuk dan produk-produk industri tidak lagi bisa mereka peroleh, mereka kembali mengandalkan alam dan berhasil. Bisa jadibenar saran pengusaha tua dari Singapure pada saya, yaitu agar Indonesia meng-embargo diri untuk bisa mandiri, karena Cuba telah membuktikannya.
Pelajaran ke tiga yang bisa diambil dari Cuba adalah ketika krisis terjadi, pemerintah dan rakyat bahu membahu mengatasinya secara bersama, seperti yang tercermin dari contoh kecil para pejabat yang mau memberi tumpangan kendaraan pada rakyat yang membutuhkannya.
Maka pada kesempatan ini saya menghimbau khususnya bagi para wakil rakyat yang suka ‘study banding’ ke manca negara; perbanyaklah study banding ke negeri sepertiCuba, dan kurangi study banding ke negeri-negeri seperti Jerman, Perancis, Amerika Serikat dan negara-negara maju lainnya.
Mengapa demikian? Negeri berkembang seperti kita ini ibarat petani dari desa. Kalau kita ke kota besar seperti Jakarta, maka kita banyak terkagum-kagum tetapi tidak banyak manfaat yang bisa kita bawa dan terapkan di desa kita. Sebaliknya bila petani dari desa ini studi banding ke petani lain yang sukses dengan karyanya, maka langsung bisa kita contoh dan terapkan di desa kita.
Belajarlah dari negeri dengan jumlah penduduknya sekitar 11 juta di areal luas lahan sekitar110,000 km2 – yang kini mampu memberikan pendapatan per capita penduduknya di angka sekitar US$ 9,900. Bandingkan ini dengan Indonesia yang memiliki 248 juta penduduk di luas areal sekitar 1,900,000 km2, pendapatan per capita penduduknya kurang dari separuh dari Cuba yaitu di kisaran US$ 4,700. Data ini diperoleh dari CIA yang bekerja ekstra keras memelototi seluk beluk yang terjadi di dua negeri ini – untuk alasan dan sudut pandang yang berbeda !
Dari angka-angka ini lantas saya memang tidak sampai pada taraf seperti yang disarankan oleh pengusaha Singapore tersebut di atas yaitu mendorong agar Indonesia meng-embargo diri, karena bagaimanapun perdagangan internasional akan bermanfaat bila dapat dijalankan secara adil. Namun bila kita diperlakukan secara tidak adil, ditekan sana – ditekan sini sampai-sampai kenaikan harga bahan bakar di negeri ini-pun konon karena tekanan asing, maka kita harus berani menyatakan tidak.
Kita harus berani menyatakan tidak untuk segala perlakuaan yang tidak adil dari negeri-negeri yang sok mendikte kita. Bila dampak dari sikap merdeka yang bebas dari tekanan asing ini terburuknya membuat kita diembargo sekalipun, kita tidak perlu khawatir sama sekali.
Siapa tahu kita bisa lebih sehat karena tumbuh secara ‘organic’ dan siapa tahu pula pendapatan kita malah meningkat dua kalinya dari sekarang menyamai Cuba. Wa Allahu A’lam.

Indigofera sp : Hijauan Bernutrisi Tinggi


Mampu mensubstitusi konsentrat hingga 40 % dan meningkatkan produktivitas susu kabing perah 16 - 20 %

Indonesia memiliki sumber bahan pakan untuk ternak khususnya hijauan sangat beragam. Sayannnya pemanfaatan sumber daya alam tersebut belum optimal mengingat masih minimnya upaya penelitian tentang hal itu.  Beranjak dari itu, Luky Abdullah, Dosen Fakultas Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Institut Pertanian Bogor (IPB), sejak 2007 melakukan penelitian penggunaan tanaman indigofera (Indogofera sp.) sebagai sumber hijauan pakan untuk meningkatkan produktivitas kambing perah.
Guna memperkuat penelitian, ia sudah membudidayakan Indigofera di Jonggol dan Darmaga Kabupaten Bogor. Dari lahan seluas 1 ha  milik Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor di Jonggol Jawa Barat, Luky sudah bisa memproduksi benih indigofera sebanyak 20 - 30 kg per 3 minggu. Sedangkan di daerah Darmaga Bogor di lahan seluas 3.000 m digunakan untuk tanaman siap panen.
Protein Tinggi
Dari hasil pengamatan Luky, kualitas rumput lapang yang ada saat ini rata–rata nilai proteinnya hanya 7 – 9 % dan tidak mencukupi untuk kebutuhan kambing perah yang mencapai 16 – 17 %. “Untuk mencukupi kebutuhan protein tersebut daun indigofera dapat menjadi alternatif solusi,” tandas Luky.
Luky menyebutkan indigofera merupakan tanaman yang sudah lama diketahui mempunyai nilai protein tinggi. Nilai protein daun indigofera bervariasi dari 25 – 28 % bahkan bisa sampai 31 %. “Di dunia terdapat hampir 700 spesies dan untuk kategori pakan yang sudah diteliti sebanyak 24 spesies. Jenis yang ada di Indonesia seperti Arrecta dan Cordifolia,” ungkapnya. Ia menambahkan, daun indigofera bersifat suplemen untuk menambah nilai gizi ransum ternak. Apalagi jika ternak hanya diberi rumput dengan kualitas protein yang rendah.

Industri Baru
Guna memudahkan dalam pemberian pada ternak, Luky merancang daun indigofera menjadi pelet. Menurut Luky, dalam bentuk pelet  dapat lebih mudah dalam penanganan dan distribusinya. “Mengingat jika masih berbentuk daun sifatnya volummenous (balky) dan mudah busuk,” jelasnya. Pria berkacamata ini menyebutkan pelet ini dibuat dari daun tanaman indigofera berumur 60 hari. Pola tanamnya seperti kebun teh, sehingga memungkinkan produksi kontinu secara periodik.
Dihitung secara ekonomis, ia menjelaskan, pelet indigofera memiliki nilai bisnis yang baik. Selain dibutuhkan oleh para peternak dan industri pakan (sebagai bahan baku) harganya juga relatif murah jika dibandingkan dengan keunggulan yang ditawarkannya (praktis dan berkualitas tinggi). Luky menuturkan, dibandingkan dengan konsentrat yang mengandung protein 18 % dengan harga kisaran Rp 2.500 – 3.000 per kg, produk ini lebih ekonomis. Karena dengan kualitas yang sangat tinggi (protein 27 – 31 %) memiliki harga pokok produksi  sekitar Rp 2.356 per kg dengan produksi pelet rata-rata 41 ton per tahun. “Untuk 100 ha  lahan pay back (impas)  periode untuk usaha ini hanya satu tahun, dan pada tahun ke dua dengan laba bersih 35 %, lalu 112 % untuk tahun ketiga, dan seterusnya,” terangnya.

Gambar ke-2 : Indigofera arrecta Hochst. ex A. Rich.
TROBOS.COM

Sebutir Pemikiran untuk Para Pemikir


pak-wayan“Pengalaman adalah guru terbaik”,
serangkai kata petuah kuno yang tak pernah lekang dan justru semakin terbukti bijak, tentu agar kita tetap rendah hati tapi berisi. Berupaya untuk tetap bisa adaptasi dengan perubahan dengan se­gala kondisi terkini, sehingga tetap dinamis yang pada akhirnya siap untuk berkompetisi demi mengisi negeri ini.
Dua puluh lima tahun yang silam, waktu yang sungguh lama tapi hingga kini masih terasa di kelopak mataku suasana saat itu, kata-kata motivasi sang senior masih mendenging di telingaku dan tetap terpatri di hatiku yaitu situasi masa ospek di SMAN I Singaraja Bali. Kala itu pihak sekolah mengundang beberapa mantan siswa yang sukses di berbagai bidang dan di berbagai negara, diundang untuk bicara apa adanya di depan adik-adiknya yaitu segenap siswa, kisah perjalanan menuju sukses dan nikmatnya jadi orang sukses. Sejak itu tertanam dalam diriku benih tumbuh subur hingga sekarang ingin jadi orang sukses berguna bagi sesama.
Lima belas tahun yang lalu, saya di­minta oleh ketua HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia) Pematang Siantar Sumut untuk memberi pembekalan kepada peserta anggota HKTI tentang etos kerja dan membangun nyali untuk mandiri, kebetulan pesertanya berlatar belakang pendidikan SPMA yang sedang mencari jati dirinya sendiri, masa tumbuh dengan penuh semangat. Setelah saya buat quisoner dengan amplop tertutup di akhir acara ternyata 95% mereka sangat membutuhkan acara-acara semacam itu. Acara proses penularan menjadi pelaku agribisnis.
Enam tahun silam, saya juga pernah diminta untuk menjadi pembicara publik / mentor tentang mengawali bisnis dari titik nol, kiat melatih diri berintuisi dan menangkap peluang bisnis di Enterprenur University yang pesertanya para karyawan berlatarbelakang pendidikan S1 dan S2, pesertanya di luar dugaan saya sungguh sangat luar biasa banyaknya kesimpulan hikmah yang saya dapatkan bahwa peserta sangat antusias, mau mengorbankan uang ba­nyak, untuk acara tersebut, untuk acara yang belum didapatkan di masa pendidikan formal sebelumnya, mereka haus akan hal itu.
Berangkat dari pengalaman–pe­ngalaman tersebut dapat kita hipotesakan bahwa generasi muda kita secara umum banyak yang bermimpi jadi pengusaha di negeri yang miskin jumlah proporsi pe­ngusahanya ini, tetapi kaya akan jumlah proporsi penganggurannya sehingga mutlak untuk secepatnya melahirkan pengusaha sebanyak-banyaknya khususnya di sektor pertanian, karena negeri ini komunitas mayoritas adalah pertanian.
Dengan dasar niat baik, tidak bermaksud menggurui terlebih intervensi justru bermaksud memberi masukan karena merasa memiliki dan mencintai dunia pertanian seutuhnya maka disarankan porsi proses penularan dari para pengusaha sukses atau pelaku agribisnis yang mapan kepada mahasiswa pertanian perlu ditambah jam dan frekuensi pertemuannya. Tanpa melihat pengajar tersebut setinggi apa tingkat strata pendidikan formalnya, otodidak sekalipun tidak masalah, yang terpenting telah membuktikan mampu berbuat.
Tidak menutup kemungkinan hal-hal aplikatif  lapangan yang tidak didapat di buku kuliah akan didapat dari para pe­ngusaha tersebut, yang diharapkan akan terbentuk karakter baru yaitu tingginya kepekaan naluri bisnis dan besarnya nyali untuk mengawali jadi pengusaha di sektor pertanian, yang pada akhirnya akan menjadi pengusaha sukses, ke depan bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi ge­nerasi muda untuk ikut bermain di dunia pertanian karena ada figur teladannya.
Mungkin, akan lebih bijaksana jika banyak melahirkan pengusaha yang bisa menampung pengangguran.(**)bangkittani.com

Pasar Kebun Haji Sopyan


Pria kelahiran Sukabumi, 5 September 1957 ini belajar bertani ketika bertugas di Timor Timur tahun 1989. Di sana, Sop­yan  bertugas sebagai pengemudi tank Kesatuan Tentara Angkatan Darat. Di sela-sela tugasnya itulah ia mencangkul untuk bertani.

h-sopiyan21Menjual sayuran langsung di kebun. Beli satu kilogram, dapat bonus satu kilogram. H. Sopyan dapat untung besar dari usaha sayuran model ini. De­ngan lahan sayuran 600 m2, mantan sopir tank ini mampu meraup keuntungan antara Rp 2 - 5juta
Setelah ia bertugas dua puluh tahun lamanya, ia mengundurkan diri, tepatnya tahun 1997, umurnya 40 tahun, pangkatnya Kopral. Ia mundur dari tugas ketentaraan karena tergiur dengan usaha tani yang sangat menguntungkan.
Di Pagedangan, Tengerang, Banten ia mulai bertani dengan memanfaatkan lahan tidur seluas 30 ha milik Pemerintah Daerah dan Developer yang berlokasi di dekat rumahnya. Sekarang, lahan yang dikelola Sopyan mencapai 35 Ha.
Hingga  tahun 2003 usaha taninya belum mebuahkan hasil keuntungan yang memadai. Menurut Sopyan setelah dipelajari ternyata yang menjadi masalah rendahnya tingkat keuntungan petani adalah panjangnya mata rantai pemasaran. Akibatnya harga yang ia terima sangat rendah dibanding harga di konsumen.
Munculnya keinginan Sopyan untuk memperpendek mata rantai pemasaran agar keuntungannya naik.  Laki-laki yang beristrikan Ety Rukanlati ini mendapat ide untuk menerapkan sistem penjualan Pasar Kebun. Maksudnya, pembeli dapat dilayani atau memetik sayuran langsung di kebun.
Setelah dijalankan, ternyata sistem Pasar Kebun ini sangat menguntungkan bagi petani maupun konsumen. Bagi pe­tani keuntungannya bertambah karena  mata rantainya sudah dipangkas. Sedang konsumen memperoleh harga yang lebih murah dibanding harga pasar, sekaligus mendapatkan nilai plus karena konsumen bisa memilih dan memetik sendiri.
Pria berperawakan langsing dan kuat pun bisa tersenyum. Sistem penjualannya yakni beli 1 kg bonus 1 kg. Misalnya, bila konsumen membeli 1 kg timun dengan harga Rp 6.000,-/kg, dia mendapatkan bonus 1 kg timun. Atau pembeli hanya membayar timun seharga Rp 3.000,-/ kg. Harga itu masih jauh lebih menguntungkan. Sebab bila ia jual ke pedagang, timun itu hanya  laku Rp 2.000,-/kg.
Contoh lain, kangkung bila dijual di pasar kebun harganya Rp 1.500,-/ikat dengan sistim beli 1 ikat bonus 1 ikat, sehingga harga riil satu ikat kangkung adalah Rp 750,-.  Bila dijual di pasar, Sopyan ha­nya dapat  harga Rp 300,-/ ikat.
Agrowisata
Ada untung tambahan yang didapat Sopyan dari menerapkan sistem Pasar Kebun. Dia melihat makin banyak pembeli datang. Mereka juga memerlukan makan dan minum. Sopyan melihatnya itu sebagai peluang untuk membuka warung makan dan minum di kebunnya. Maka dia pun membuka usaha Rumah Makan Bambu Kuning.
Muncul lagi peluang usaha dari sistem Pasar Kebun ini, yakni  menjadi tempat pembelajaran atau wisata agro bagi anak-anak sekolah maupun masyarakat lain.  Bagi anak-anak TK/SD, Sopyan memasang tarif Rp. 25.000,- per anak. Dengan biaya itu, setiap anak bisa memetik sayuran sebanyak 1 kantong plastik (senilai Rp. 5.000,-). Mereka juga mendapat penjelasan cara bercocok tanam yang baik, mudah, murah dan menguntungkan.
Jadi penghasilan H Sopyan makin hari makin meningkat. Yang dulu pada awalnya dengan luas lahan usaha 600 m2, Sopyan bisa mengantongi pendapatan Rp 2 juta/bulan, kini telah meningkat menjadi Rp 5 juta/bulan. Dengan bertambah luas dan bertambahnya jenis usaha  pendapatannya kini tak kurang dari Rp 300 juta/ bulan. Dia yakin de­ngan cara bisnis seperti ini, akan mempercepat perkembangan usaha pertanian di tingkat desa maupun tingkat kecamatan. (**)

PROFIL
Nama   : H Sopyan
Alamat : Cihuni RT 3/4 Pagedangan
Tangerang, Banten
HP        : 081218193354
bangkittani.com

Mencetak Pemuda Peternak Unggul

Nama : Abdullah   TTL : Pematang Siantar,11-11-1976  Hp : 081329342004
Nama :Abdullah TTL :Pematang Siantar,11-11-1976 Hp :081329342004

Pemuda, saat ini kurang berminat di pertanian, peternakan, dan perikanan sebagai lahan untuk bekerja. Hal inilah yang terus diperangi oleh Pak Abdullah, salah seorang peternak di pulau Karimun. Menurutnya, pemuda harus mau menggiatkan kembali unsur pertanian, peternakan, dan perikanan di Indonesia

Berangkat untuk mengubah nasib, Pak Abdullah merantau ke pulau Karimun tepatnya di Kecamatan Kundur. Di tahun 2005 nasib berkata lain, Pak Abdullah terkena imbas pengurangan pegawai di hotel
Taman Gembira Kecamatan Kundur. Perjalanan usaha Pak Abdullah pun dimulai di sana. Dengan bermodalkan sapi 3 ekor ia merintis penggemukan sapi. Enam bulan kemudian dari sapi yang dipelihara, dijual kembali dengan harga Rp 6 juta kebetulan bertepatan dengan Hari Raya Idul Qurban.
unggul2Dari keuntungan Rp 18 juta tersebut Pak Abdullah mulai merintis kembali tapi kali ini pembibitan sapi yang saat ini sudah berjumlah 45 ekor. “Merawat sapi itu harus dengan ikhlas dan perhatian karena sapi itu juga makhluk Allah,” ujar pak Abdullah memulai pembicaraan. “Kita akan mengerti akhirnya apakah sapi itu sehat ataukah sakit,” sambungnya.
Di usaha awalnya tersebut, Pak Abdullah memulai sendiri dari mencari rumput, membersihkan kandang dan kegiatan rutin lainnya. Melihat kegigihan dan semangat Pak Abdullah, Dinas Pertanian, Peternakan, dan Kehutanan Kabupaten Karimun mengajak Pak Abdullah untuk membuat pilot project peternakan dengan status peminjaman lahan.
Kegiatan ini dimaksudkan untuk memberikan contoh nyata kepada masyarakat bagaimana menjadi peternak yang unggul. Semangat untuk mengembangkan masyarakat dibuktikan Pak Abdullah dengan mengajak pemuda untuk belajar di tempatnya dengan gaji yang diberikan sebesar Rp 750.000/bulan. “Saya tidak mengikat mereka sebagai pegawai, saya harapkan mereka nanti menjadi peternak-peternak unggulan dan menjadikan peternakan sebagai unggulan di daerah kami.”
unggul3 Tentu saja usaha yang dilakukan tidak berjalan dengan mulus begitu saja. Adapun kendala-kendala yang dihadapi Pak Abdullah antara lain masih enggannya masyarakat khususnya pemuda untuk menggeluti peternakan. Pernah pengalaman beliau memberikan beberapa ekor kambing kepada pemuda-pemuda yang ada di kampungnya tetapi ternyata kam­bing yang ada dijual atau dirawat oleh orang tuanya. Meskipun demikian, semangat itu tidak pernah padam.
“Dari 4 orang anak muda yang ikut saya sekarang dapat menjadi kader-kader muda peternak yang akan memajukan daerah ini,” terang Pak Abdullah dengan bangga. Saat ini Pak Abdullah telah mempersiapkan lahan seluas 12 ha yang nantinya direncanakan beliau untuk menjadi pusat pembelajaran peternak.
Kemauan yang kuat untuk menjadi mandiri serta memandirikan masyarakat sepertinya sangat layak dicontoh. Tidak hanya butuh semangat, dibutuhkan juga kepedulian dari berbagai pihak terutama pemerintah pusat maupun daerah, juga para investor untuk mengalirkan bantuan-bantuannya yang kemudian dapat digunakan untuk mengembangkan daerah baik sumberaya manusia maupun potensi alam yang ada. (Lisma)
unggul5
bangkittani.com

Minggu, 14 Oktober 2012

Sarjana Matematika, Sukses di Dunia Pertanian

sarjana-matematika1Ngadiono, Sarjana Matematika dan istrinya Sarjana Pertanian mereka tetap setia berjiwa pertanian. Begitulah pengalaman hidup yang sedang dialami Ngadiono. Lulus dari bangku kuliah dengan gelar Sarjana Matematika tidak menghambat Ngadiono untuk kembali menekuni dunia pertanian yang sebenarnya telah lama dicintainya. Kepedulian terhadap para petani di Desa Sumber Jati dan peluang atau potensi besar menjadi dasar bagi Ngadiono untuk membuka toko kebutuhan pertanian seperti pupuk, alat-alat pertanian, serta pestisida dari tahun 1991 hingga sekarang.
Ngadiono memulai usahanya melalui bermitra dengan agen-agen pupuk dan pestisida yang ada di Banyuwangi, Jember dan Surabaya. Bermodalkan lahan berukuran 40×20 m yang disulap Ngadiono menjadi toko pertanian, serta modal awal Ngadiono Rp 10 juta. Ngadiono tidak hanya berjualan kebutuhan pertanian saja tetapi juga seringkali memberikan konsultasi tentang PHT (Pengendalian Hama Terpadu) terhadap petani atau konsumen yang berkunjung ke tempat Ngadiono.
sarjana-matematika21Mengabdi untuk dunia pertanian menjadi prioritas utama bagi Ngadiono, di samping memiliki toko pertanian juga budidaya kedelai dua kali tanam dalam setahun setelah panen padi. Omset dari bisnis kebutuhan pertanian yang telah dijalani Ngadiono 18 tahun kurang lebih per harinya Rp 5 juta. Kendala yang sering dialami Ngadiono adalah pasokan pupuk yang mulai berkurang saat ini dengan harga pupuk yang semakin mahal. Ngadiono berharap petani-petani Indonesia diberikan kemudahan akan kebutuhan pupuk. Ngadiono juga memberikan tanggapan tentang hasil pertanian organik yang sudah banyak di pasaran. Menurut Ngadiono organik dirasa sangat bagus untuk alam dan lingkungan serta petani dapat menikmati hasil pertanian dengan kondisi alam yang tetap terjaga kelestariannya.
Komentar Ngadiono terhadap hadirnya Majalah Bangkit Tani dipandang sangat efektif untuk mencerdaskan para petani, dengan demikian diyakini produktivitas petani ke depan akan meningkat karena pola pikirnya yang sudah berbeda, untuk itu dia juga berharap kiranya pemerintah bisa memberi subsidi berbentuk langganan Majalah Bangkit Tani.bangkittani

Diperah Sambil Mendengarkan Musik


fajar-taurus1Sapi-sapi di Fajar Taurus Farm seakan memiliki intelegensia yang tidak dimiliki sapi-sapi di peternakan lainnya. Saat me­reka memasuki tempat pemerahan, me­reka berbaris rapi untuk memasuki mesin pemerah susu otomatis. Pun setelah dilakukan pemerahan, mereka antri untuk keluar dari sekat pemerahan dengan ter­atur.
Sapi dibuat rileks dengan mendengarkan musik saat diperah secara mekanis.
Perawatan untuk sapi menggunakan be­ding system.

Selama dilakukan pemerahan, terdengar alunan musik relaksasi yang sengaja diputar. “Pemutaran musik ini sengaja dilakukan untuk menenangkan kondisi psikologi sapi saat diperah,” ungkap Amung memberikan informasi. Selain bertujuan menenangkan kondisi psikologi sapi, Amung juga meyakini dengan pemutaran musik saat pemerahan, sapi menjadi lebih pintar dibandingkan dengan sapi-sapi lainnya. “Mereka seakan mengembangkan otaknya dalam menerima perintah dari manusia,” sambungnya.
fajar-taurus2Fajar Taurus Farm juga menerapkan sistem yang berbeda untuk perawatan sapi. “Kami menggunakan beding system dalam merawat sapi-sapi di peternakan kami. Polanya sebenarnya sederhana, sapi-sapi tersebut sengaja dibuat bebas bergerak tanpa penyekat. Hal ini dilakukan agar sapi lebih bebas bergerak dan kebersihannya terjaga. Hanya saja, pada saat makan mereka diarahkan dengan safe locking. “Tujuannya, mereka mendapatkan porsi makan yang cukup tanpa terjadi saling serobot.” Mekanisasi juga dilakukan saat pengolahan pakan. Rumput-rumput yang dijadikan pakan sudah mengalami proses mekanisasi dalam pengolahannya melalui mesin pencacah rumput.
Modernisasi yang dilakukan oleh Fajar Taurus Farm semata-mata dilakukan untuk meningkatkan kualitas susu yang diproduksi. “Sejak awal kami menerapkan swasembada sapi. Kami menernakkan bi­bit, membuat pakan, dan mengolah susu secara mandiri.” Saat ini, Fajar Taurus Farm memiliki populasi sapi perah sekitar 350 sapi. Per hari, peternakan ini mampu memproduksi susu sekitar 4.000 liter. Hasil produksi susu kelak dikirim ke daerah Cijantung Jakarta Timur untuk diolah menjadi soft and fresh cheese dengan aneka rasa, yoghurt dan olahan lainnya.bangkittani.com

Salak di Desa Salak Karena Salak ke-5 Putrinya jadi Sarjana

salakBuah yang memiliki kulit dan bentuk yang khas serta memiliki duri pada pohonnya, telah lama dibudidayakan oleh H. Mukojien (60 tahun) di Dusun Salak Desa Semboro Lor Kecamatan Tanggul Kabupaten Jember. Berawal dari lahan salak yang merupakan turun temurun dari keluarga Mukojien, yang berarti umur salak lebih tua dari umur H. Mukojien. Faktor keturunan inilah yang mendukung Mukojien untuk melestarikan budidaya salak yang telah ditekuni keluarganya sejak lama. Bermodalkan ilmu keturunan, Mukojien mampu memperluas lahan yang semula hanya beberapa petak saja, hingga sekarang menjadi berkembang pesat.
Sifat tekun dan ulet yang diwariskan keluarganya membuat H. Mukojien mencoba untuk mengembangkan atau menumbuhkan Salak Pondoh yang merupakan hal yang baru di Dusun Salak, karena hanya H. Mukojien yang mencoba untuk menanam salak pondoh. Tahun 2006, Mukojien membeli bibit yang berjumlah 400 yang didatangkan langsung dari Jogjakarta, membuat H. Mukojien menjadi petani pertama yang mampu menumbuhkan Salak Pondoh di Dusun Salak dan menjadi petani salak tersukses. Bibit yang dibelinya dari Jogjakarta, oleh Mukojien diteliti dan dipelajari bagaimana proses menumbuhkan dan membudidayakan, karena menurutnya Salak Pondoh sangat susah untuk ditumbuhkan di Dusun Salak. Bibit yang dibelinya dari Jogjakarta sebanyak 400 dengan harga Rp3.750 per bibit, kini menjadi 700 pohon salak pondoh yang produktif.
Pohon Salak Pondoh milik Mukojien, berbunga hingga 6 sampai 8 bunga per pohonnya, adapun 1 bunga dapat berkembang menjadi buah salak pondoh dengan bobot 4,5 kg. Proses pengawinannya dilakukan secara manual oleh Mukojien, karena di Dusun Salak, serangga khususnya lebah yang membantu proses penyerbukan susah untuk di dapatkan.
Menurut H. Mukojien, budidaya salak sangat mudah, karena tidak membutuhkan biaya yang banyak dan perawatan yang ekstra. Modal awal hanya digunakan untuk membeli bibit saja, selanjutnya hanya menanam pada lahan sawah tanpa adanya pemberiaan pupuk hingga pohon Salak Pondoh berbuah. Perawatan hanya dilakukan dengan cara menyiram air, karena menurut Mukojien, air dapat mempengaruhi besar kecilnya buah salak pondoh yang dihasilkan.
H. Mukojien membandingkan Salak Pondoh miliknya dengan cara melakukan perkawinan dan tanpa melakukan perkawinan, ternyata hasilnya berbeda. Salak pondoh yang dilakukan dengan cara perkawinan dapat menghasilkan Rp8 juta hingga Rp9 juta pada lahan yang dimiliki oleh Mukojien.
Jika tanpa adanya perkawinan, dapat menghasilkan Rp7 juta dari lahan yang dimiliki. Penjualan hasil Salak Pondoh milik Mukojien, langsung dijual oleh Mukojien pada tengkulak dengan harga Rp2000 per kg, tetapi Mukojien juga menjual langsung pada konsumen dengan harga Rp5000 per kg. Usaha budidaya salak yang ditekuni Mukojien, dapat membantu kehidupan perekonomiannya sehingga H. Mukojien mampu memfasilitasi ke- 5 putirnya hingga semua menjadi sarjana.
mukojienProfil
H. Mukojien
Dusun Salak, Desa Semoro Lor
Kec. Tanggul Kab. Jember
(0336) 443 150
bangkittani.com

Naik Haji karena Terong


terongPenggemar makanan pedas, tidak akan lengkap tanpa lalapan yang terdiri dari daun kemangi, timun, kacang panjang, dan terong. Salah satu dari kombinasi lalapan yang telah disebutkan, terong paling banyak peminatnya walaupun banyak opini kalau terong dapat membuat tubuh menjadi lemas tetapi opini tersebut hilang seiring dengan nikmatnya rasa terong apabila dibakar atau sebagai pelengkap sambal. Terong memiliki bentuk lonjong, besar, dan terdiri dari 2 warna terong yaitu terong ungu dan terong hijau. Ukuran terong juga terdiri dari 2, yaitu terong berukuran besar dan kecil.
Desa Sumber Jeruk Kecamatan Kalisat Kabupaten Jember, merupakan penghasil tanaman terong besar yang berwarna hijau. H. Sulton merupakan salah satu petani yang membudidayakan tanaman terong. Berawal dari 7 tahun yang lalu, H. Sulton mencoba-coba untuk menanam terong di kebun miliknya yang telah lama tidak ditanami tanaman. Bermodalkan bibit terong yang didapatkan dari rekan atau teman semasa kuliah. Tanaman terong tidak susah dalam perawatannya, pemberian pupuk yang teratur, irigasi air yang mudah, dan pengawasan tanaman terong mulai dari bibit hingga siap panen. Pupuk yang digunakan oleh H. Sulton Za, KCl, dan Phonska.
Hama merupakan masalah dalam budidaya tanaman terong, terutama kutu putih yang sering berada di bagian bawah dari daun terong. Obat-obat atau insektisida sering digunakan oleh H. Sulton sebagai cara pengendalian hama tersebut, adapun yang sering digunakan adalah merek dagang Desis tetapi masih kurang maksimal atau belum memberikan hasil yang memuaskan. Hasil pemakaian insektisida yang kurang memuaskan membuat H. Sulton memikirkan cara alternatif pengendalian yaitu dengan menggunakan predator sebagai pengendalian secara alami, adapun predator yang digunakan adalah kumbang Coccinella Sp.
Panen terong dapat dilakukan apabila umur dari tanaman terong mencapai 2,5 bulan. Proses panen terong dapat mencapai 7 kali panen dalam waktu 1 bulan atau 5 hari 1 kali panen. Hasil panen terong milik H. Sulton mencapai kurang lebih 5 karung beras yang berukuran 50 kg. 1 karung berisi 5 hingga 6 lusin buah terong. Harga dari 1 karung terong dijual Rp 35.000 hingga Rp 50.000 sesuai dengan ukuran dan kualitas dari buah terong yang dipanen.
Omset yang didapatkan oleh H. Sulton dalam 1 musim tanam terong sebesar Rp 1.225.000 untuk lahan berukuran 100 m2. Penjualan hasil panen dari tanaman terong H. Sulton dipasarkan ke wilayah sekitar Jember, Bondowoso, Banyuwangi oleh tengkulak yang telah memesan sejak tanaman terong masih belum berumur 2 bulan. H. Sulton menekuni bidang pertanian sesuai dengan keahlian turun-temurun dari orang tua dan kondisi sekitar tempat tinggal yang merupakan daerah pedesaan dengan lahan kosong yang luas. Keahlian H. Sulton dapat menghidupi keluarganya dan mengantarnya hingga ke Tanah Suci Mekkah
untuk beribadah haji. (**)
sulton1Profil Pemilik
Nama : H. Sulton
Alamat : Desa Sumber Jeruk Kecamatan Kalisat Kabupaten Jember
No. Telp : (0331) 592743
bangkittani.com

Banjir Uang karena Wortel


wortel-1BanjirANJIR wortel melanda Desa Sumber Brantas Kota Batu, hamparan luas sepanjang jalan menuju tempat wisata Cangar dipenuhi tanaman wortel yang siap panen atau akan panen. Petani-petani sibuk memanen dan menjual wortel hasil lahannya, warna merah, lonjong, dan besar menjadi daya tarik wortel khas Kota Batu. Manfaat wortel yang begitu besar bagi kesehatan mata menjadi salah satu alasan bagi wisatawan yang sekedar mampir untuk foto-foto atau membeli wortel sebagai oleh-oleh untuk dinikmati di kampung halaman.

Ngadi, salah satu petani yang sibuk saat musim panen wortel mengatakan, “ wortel khas Batu berbeda dengan wortel wortel lain karena wortel Batu memiliki ukuran yang lebih besar dan lebih panjang,” ujar Ngadi saat menawarkan wortel miliknya. Rata-rata petani wortel di Desa Sumber Brantas Kota Batu memiliki lahan tanaman wortel seluas 1 ha. Ngadi sendiri memiliki lahan wortel dengan luas 1 ha. Lahan miliknya merupakan warisan turun- temurun dari keluarga Ngardi.
Modal awal yang dibutuhkan untuk menanam wortel di lahan seluas 1 ha yaitu Rp 15 juta. Modal awal digunakan untuk membeli pupuk, pestisida dan ongkos perawatan tanaman wortel, sedangkan untuk bibit menggunakan bibit milik sendiri. Menurut Ngardi bibit milik sendiri dibuat dari bunga wortel yang telah dikeringkan dan ditanam di polibag. Penggunaan bibit sendiri dapat menghemat biaya tanam wortel. Proses pemupukan, Ngardi menggunakan Phonska yang dilakukan 1 kali mulai tanam wortel hingga tanaman wortel siap panen.
wortelMerawat tanaman wortel membutuhkan tempat atau lahan yang tidak susah untuk mendapatkan air. Masa tanam wortel hingga panen adalah 4 bulan, dengan waktu yang relatif singkat dapat memungkinkan bagi Ngardi untuk panen 3 kali dalam 1 tahun. Tantangan yang serius menurut Ngardi dalam budidaya wortel yaitu serangan hama, ulat daun cabuk menjadikan musuh yang paling berbahaya bagi petani wortel, karena ulat cabuk dapat merusak dan menyerang daun wortel serta pengaruhnya terhadap wortel dapat mengurangi kualitas dan ukuran dari wortel.
kebunMusim panen wortel menjadikan saat-saat yang membahagiakan bagi petani di Sumber Brantas. Harga wortel yang masih tergolong cukup tinggi menjadi suatu keuntungan bagi petani wortel, wortel milik Ngardi diberi harga 1 kg Rp 3.000, sedangkan untuk sekali panen Ngardi memperoleh hasil 30 ton untuk 1 ha lahannya, jadi keuntungan Ngardi sekali panen yaitu Rp 90 juta – Rp 15 juta = Rp 75 juta. Menurut Ngardi, tanam wortel dapat memberikan keuntungan yang besar tetapi juga menyita waktu petani untuk merawat dan terutama menjaga tanaman wortel saat menjelang panen, hal ini dikarenakan untuk menjaga kualitas wortel agar lebih baik. Dapat dibayangkan bagaimana hasil panen petani wortel apabila dalam waktu 1 tahun, tidak berminatkah anda menikmati “ Banjir Uang Karena Wortel”? (**)bangkittani.com

Sudah Bosan Hidup di Bawah Telunjuk Orang


bosan-dibawah-telunjukSosok bersahaja dan pekerja keras terlihat dari penampilannya. Pak Udin, begitu beliau biasa disapa memulai cerita hidupnya yang penuh perjuangan. Pada tahun 2005 Pak Udin berangkat dari tanah kelahirannya  Pinrang, sebuah daerah di Sulawesi Selatan, dengan hanya berbekal nama daerah Tanjung Batu. Pak Udin memulai perjalanan hidup di Tanjung Batu dengan uang Rp 100.000 di kantong. Untuk sampai di Tanjung Batu Pak Udin menumpang perahu ikan.
Sesampainya di Tanjung Batu, Pak Udin bekerja serabutan. Beliau memulai karirnya  dengan menjadi buruh tani di perkebunan masyarakat, tinggal di sebuah pondok yang dibuat sendiri dengan ukuran hanya cukup 2 orang. Niat untuk mengubah nasib untuk menjadi lebih  lebih baik  membuat Pak Udin tidak begitu saja  puas menjadi buruh tani. Beliau memberanikan diri memulai usaha tambak udang bermodalkan semangat dan pinjaman uang koperasi dengan menggadaikan motor milik  temannya sebesar Rp 5 juta.
Pada tahap awal Pak Udin bekerjasama dengan pemilik tambak mengelola 4 petak tambak udang. Dengan modal yang pas-pasan. Pak Udin mengerjakan tambak sendiri menggunakan cangkul yang luasnya lebih kurang seluas lapangan bola selama 30 hari pengerjaan. Kerja keras Pak Udin membawakan hasil awal yang tidak sia-sia. Panen pertama ini lumayan memuaskan,  setiap petak tambak menghasilkan 400 kg dengan harga Rp 40.000/ kg.
bosan-dibawah-telunjuk3Melihat prospek yang bagus dan menjanjikan dari tambak udang ini maka Pak Udin memulai kembali untuk menebar benih udang, tapi untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, usaha tambak Pak Udin yang kedua mengalami kegagalan 100% dikarenakan banjir yang melanda tambak sehingga benih seba­nyak 380.000 ekor terbawa banjir. Tidak menyerah dengan kegagalan ini, Pak Udin berusaha kembali untuk bertambak udang. Pada panen yang ketiga ini Pak Udin mendapatkan hasil yang menjanji­kan, hasil panen yang didapat Pak Udin dengan mengolah 7 petak tambak sekitar 140 juta.
Setiap panen Pak Udin selalu mengajak masyarakat untuk panen bersama, de­ngan tujuan untuk mengajak masyarakat ber­tambak udang dengan melihat contoh dari apa yang telah diperbuat olehnya. Pak Udin berharap agar masyarakat tergerak untuk dapat berkarya dan berkembang bersama dengan pemanfaatan potensi yang dimiliki. “Saya mungkin dapat makan di Sulawesi tapi saya ingin perubahan yang lebih baik bagi hidup saya sekarang, saya inginkan anak saya nanti mampu menjadi orang hebat dan saya tetap akan bertambak karena inilah jalan hidup saya karena sudah cukup saya hidup dibawah telunjuk orang lain”. Begitulah  sebuah kata  penutup pertemuan dengan Pak Udin yang sekarang dipercayakan masyarakat untuk mengelola tambak yang ditinggalkan sebanyak 23 petak. Kebersahajaan dan keinginan yang kuat menjadikan Pak Udin berhasil dan sekarang telah memiliki lahan seluas 30 ha milik Pak Udin pribadi dari hasil usaha tambak yang telah dimi­likinya. (**)
bosan-dibawah-telunjuk2PROFIL
Nama   : Udin
Alamat : Sungai Raya, Tanjung Batu, Kab. Karimun - Sulsel
Telp.    : -
bangkittani