Kamis, 27 September 2012

22 Juni, Seputar Piagam Jakarta: Soekarno Berkhianat & Bohong, Hatta Berdusta!


JAKARTA (salam-online.com): Tanggal 22 Juni adalah hari yang bersejarah. Piagam Jakarta ditandatangani. Inti dari Piagam Jakarta adalah pelaksanaan syariah Islam bagi kaum Muslimin—sebagai ganti republik ini belum menjadikan Islam sebagai Dasar Negara.
Tetapi, setelah itu kenyataan berbicara lain. Tanggal 17 Agustus  1945 yang merupakan hari gembira bagi bangsa Indonesia karena diproklamirkannya kemerdekaan, namun sehari setelah proklamasi, 18 agustus 1945, adalah hari kelam bagi Umat Islam Indonesia.  Pada hari itu kesepakatan antara umat Islam dengan kelompok nasionalis dan Non-Muslim dikhianati.
Tujuh kata yang menjamin penegakan syariat Islam  di Indonesia dihapus. “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” berganti menjadi “Ketuhanan yang Maha Esa”.
Dengan penghapusan ini, pembukaan konstitusi yang tadinya disebut sebagai Piagam Jakarta pun berubah drastis. Sebelumnya, para wakil kelompok Islam yang menjadi anggota Dokuritsu Zyumbi Tyioosaki atau Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) berusaha keras menjadikan Islam sebagai Dasar Negara.
Perdebatan alot terjadi sehingga lahirlah kompromi berupa Piagam Jakarta. Islam tidak menjadi dasar Negara, namun kewajiban bagi para pemeluknya diatur dalam kontitusi.
BPUPKI kemudiaan menetapkan Piagam Jakarta pada tanggal 22 Juni 1945. Naskah tersebut di tetapkan sebagai Mukaddimah UUD.
Pada tanggal 7 Agustus BPUPKI berubah menjadi PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia)  yang di ketuai oleh Soekarno. Piagam Jakarta bertahan sebagai Mukaddimah  UUD hingga 17 Agustus 1945, karena selang sehari kemudian dipersoalkan oleh golongan Kristen, yang selanjutnya dibantu para pengkhianat.  Padahal A.A Maramis  yang menjadi wakil Kristen di PPKI sudah setuju dengan piagam tersebut dan ikut menandatangani.

Rekayasa Politik
Suasana Sidang Pembahasan Piagam Jakarta
Kronologi penghapusan Piagam Jakarta cukup misterius. Pada tanggal 18 Agustus Moh. Hatta mengaku ditemui oleh seorang perwira angkatan laut jepang. Katanya, opsir itu menyampaikan pesan berisi “ancaman” dari tokoh Kristen di Indonesia timur. Jika tujuh kata dalam Sila Pertama pembukaan (Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya) tidak dihapus, mereka akan memisahkan diri dari Indonesia merdeka.
Hatta dan Soekarno, yang memang termasuk kelompok sekuler, kemudian membujuk anggota PPKI dari kelompok Muslim untuk menyetujui penghapusan tujuh kata itu. Di antara mereka hanya Ki Bagus Hadi Kusumo yang bersikeras tak mau. Menurut Ki Bagus, itu berarti mencederai gentlemen agreement (Kesepakatan di antara para pria terhormat) yang sudah mereka sepakati bersama. Soekarno dan Hatta kemudian menyuruh Tengku Moh. Hassan (anggota PPKI dari Aceh) dan Kasman Singodimedjo (Anggota Muhammadiyah seperti Ki Bagus) untuk membujuk Ki Bagus. Kasman-lah yang berhasil meyakinkan, terutama dengan janji syariat Islam akan masuk kembali dalam dalam konstitusi daerah setelah MPR terbentuk enam bulan kemudian. Dan, kenyataannya, Soekarno ingkar janji. Para pemimpin Islam kena tipu mulut manisnya Soekarno. Jadi, kelak, itulah salah satu alasan utama yang melatarbelakangi timbulnya perjuangan DI-TII pimpinan Kartosuwirjo.
Kelak Kasman sangat menyesali peran dalam penghapusan tujuh kata tersebut. Ternyata hal tersebut berujung pada nasib tragis umat Islam di Indonesia yang mayoritas tetapi tidak boleh menjalankan syariat di dalam negeri sendiri.  Kabarnya, Kasman Singodimedjo, selalu menangis jika teringat perannya membujuk Ki Bagus.
Misteri Opsir Jepang
Pertanyaan pertama dan kedua agak sulit dijawab. Sampai wafatnya, Hatta tak pernah  membuka mulut siapa pemberi dan penyampai pesan itu. Ia mengaku lupa (atau pura-pura lupa, ada juga dugaan itu fiktif, red) siapa nama opsir jepang tersebut. Ada beberapa spekulasi yang menyebut bahwa pemberi pesan itu adalah dr. Sam Ratulangi, tokoh krsten dari Sulawesi utara. Kini namanya diabadikaan sebagai nama universitas di Manado.
Artawijaya, dalam Peristiwa 18 Agustus 1945: “Pengkhianatan Kelompok Sekuler Menghapus Piagam Jakarta”, menguraikan beberapa teori yang mungkin bisa menjawab pertanyaan di atas. Pertama,  soal Opsir Jepang, Artawijaya mengambil teori Ridwan Saidi, seperti dikutip dari Dr Sujono Martoesewojo dkk, dalam bukunya “Mahasiswa ’45 Prapatan 10”. Menurut Ridwan, anggapan bahwa ada opsir jepang yang datang ke rumah Hatta  pada petang hari tanggal 18 Agustus 1945 kemungkinan karena kesalahpahaman saja. Iman Slamet, mahasiswa kedokteran yang menemani Piet Mamahit menemui Hatta memang berpostur tinggi, rambut pendek, mata sipit, dan suka berpakaian putih-putih. Iman Slamet inilah yang kemungkinan dikira Opsir Jepang oleh Hatta. (Ini aneh.  Jika betul Hatta mengira Slamet sebagai opsir Jepang, apa dia, Hatta, tidak bertanya tentang Slamet, kenapa bisa langsung menyimpulkan sebagai opsir Jepang?)
Lalu untuk apa para mahasiswa itu mendatangi Hatta? Menurut penelitian Artawijaya, pada saat proklamasi 17 agustus 1945 dibacakan di jalan Pegangsaan 56, Jakarta, tak ada satu pun tokoh Kristen yang hadir dalam peristiwa bersejarah itu. Seharusnya, dalam suasana kemerdekaan dan untuk menunjukkan rasa persatuan, mereka hadir dalam acara tersebut.
Kenapa tokoh Kristen tak menghadiri acara penting dan sangat bersejarah itu?
Menurut Artawijaya, para aktivis Kristen tengah sibuk kasak-kusuk melakukan konsolidasi dan lobi lobi politik untuk meminta penghapusan tujuh kata dalam piagam Jakarta. Kesimpulan ini didasarkan pada pernyataan Soekarno yang mengatakan bahwa malam hari usai proklamasi kemerdekaan RI, ia mendapat telepon dari sekelompok mahasiswa Prapatan 10, yang mengatakan bahwa siang hari pukul 12.00 WIB (tanggal 17 Agustus), tiga orang anggota PPKI asal Indonesia timur, dr Sam Ratulangi, Latuharhary, dan I Gusti Ketut Pudja mendatangi asrama mereka dengan ditemani dua orang aktivis mahasiswa. Mereka keberatan dengan isi Piagam Jakarta. Kalimat dalam Piagam Jakarta, bagi mereka, sangat menusuk perasaan golongan Kristen.
Pada saat itu Latuharhaary sengaja mengajak  dr. Sam Ratulangi, I Gusti ketut Pudja, dan dua aktivis asal Kalimantan timur, agar seolah-olah suara mereka mewakili masyarakat Indonesia wilayah timur. Mereka juga sengaja melempar isu ini ke kelompok mahasiswa yang memang mempunyai kekuatan menekan, dan mengharap isu ini juga menjadi tanggung jawab mahasiswa.
Kelompok mahasiswa lalu menghubungi Hatta, yang kemudian mengundang para mahasiswa untuk datang menemuinnya pukul  17.00 WIB. Hadir dalam pertemuan itu aktivis Prapatan 10, Piet Mamahit dan Iman Slamet.
Setelah berdialog Hatta kemudian menyetujui usul perubahan tujuh kata dalam Piagam Jakarta. Setelah dari Hatta malam itu juga para mahasiswa menelpon Soekarno untuk menyatakan keberatan dari tokoh Kristen Indonesia timur.
Tokoh dimaksud adalah dr. Sam Ratulangi yang sebelumnya mendatangi kelompok mahasiswa Prapatan pada pukul 12.00 WIB, tanggal 17 agustus 1945. Ratulangi meminta mereka untuk terlibat dalam penghapusan tujuh kata dalam Piagam Jakarta. Kemudian mahasiswa itu menghubungi Hatta, dan Hatta mengatur pertemuan pada sore harinya.
Berdasarkan fakta tadi maka keterangan Hatta soal adanya pertemuan dengan Opsir Jepang, yang ia lupa namanya, diragukan. Karena itu dalam sebuah diskusi tentang piagam Jakarata, Ridwan Saidi mengatakan, Dengan segala hormat saya pada Bung Hatta, dia seorang yang bersahaja, tapi dalam kasus piagam Jakarta saya harus mengatakan bahwa ia berdusta.

Sejarawan Ridwan Saidi
Penelitian Ridwan Saidi dikuatkan dengan sebuah buku yang diterbitkan di Cornell University AS, yang mengatakan bahwa dalang di balik sosok misterius opsir Jepang adalah dr. Sam Ratulangi, yang disebut dalam buku itu sebagai an astune Christian politician from Manado, north Sulawesi (Seorang politisi Kristen yang licik dari Manado, Sulawesi Utara).
Jadi, menurut teori Ridwan Saidi, Hatta menyembunyikan fakta bahwa yang ia temui bukanlah seorang opsir Jepang. Bisa jadi yang ia temui dan disangka Opsir Jepang adalah mahasiswa, Iman Slamet, yang fisik dan pakaiannya mirip orang jepang. Sementara tokoh Indonesia timur yang membawa pesan itu adalah dr. Sam Ratulangi. (Tapi andai pun benar opsir Jepang, memangnya kenapa, tetap tak ada juga alasan untuk berkhianat, red).
Kaum Islamfobia
Pendek cerita, tujuh kata itu dihapus. Namun tak hanya itu, beberapa perubahan terkait peran Islam dalam kontitusi juga danulir.  Terkait pertanyaan ketiga, benarkah Indonesia Timur yang mayoritas Kristen tak akan melepaskan diri setelah penghapusan tujuh kata Piagam Jakarta?
Sejarah kemudian membuktikan, kawasan yang menjadi modal klaim kelompok Kristen itu ternyata tetap berusaha melepaskan diri dari naungan NKRI—meskipun tujuh kata sebagai pengorbanan umat Islam itu sudah dihapus. Tapi, walaupun umat Islam (khususnya para pimpinan dan toloh Islam) kala itu sudah dikhianati, dikadalin dan ditipu, berikutnya tak jua mengambil pelajaran dari pengalaman pahit ini!
Pemberontakan RMS di Maluku dan Permesta di Sulawesi Utara membuktikan, tanpa tujuh kata tentang Syariat Islam pun, kelompok Kristen memang tak betah bernaung di bawah NKRI. Kelak kebencian itu menggelora lagi di kawasan yang sama. Sekian abad dimanja Belanda sebagai warga kelas satu membuat kelompok Kristen tak sudi dipimpin oleh Muslim.
Faktanya lagi, pada saat bangsa Indonesia masih berpegang teguh pada UUD 1945 (hasil perubahan yang memenuhi aspirasi kelompok Kristen), toh orang-orang Kristen dan Katolik dari Timur itu ternyata tetap sangat kuat keinginannya untuk  melepaskan diri dari Indonesia. Munculnya gerakan RMS, FKM, Kongres Papua, Papua Merdeka, adalah sebagai bukti. Demikian pula, peristiwa Ambon dan Poso yang dilatarbelakangi  rebutan posisi politik lokal menunjukkan sinyalemen tersebut.
Yang terjadi pada tanggal 18 Agustus 1945 betul-betul tragedi hitam bagi umat Islam yang berbuntut panjang di masa depan. Umat Islam tertipu atau ditipu, dikhianati dan dibohongi! Tapi, sayangnya, dalam banyak peristiwa umat Islam negeri ini masih juga tak mengambil pelajaran dari pengalaman sebelumnya. Kerap gagap, kegigit lidah dan mudah jadi pecundang! Atau mengalah demi toleransi yang padahal golongan lain (yang minoritas) itu pun tak pernah mau bertoleransi dengan umat yang mayoritas ini.
Sebagai contoh, umat Islam ingin melaksanakan ajarannya sendiri yang diatur melalui Piagam Jakarta, lantas apa urusannya kelompok lain keberatan? Kenapa mereka menolak umat Islam untuk melaksanakan syariat yang diatur dengan aturan yang dibuat sendiri oleh umat Islam?   Begitu pula dengan sejumlah Perda yang mengatur umat Islam, kenapa harus sewot jika kaum Muslimin melaksanakan ajarannya sesuai ketentuan dalam Perda itu?
Belakangan, ketika sejumlah Perda yang mengatur pelaksanaan syariah untuk umat Islam muncul, kelompok yang dulu menolak Piagam Jakarta, termasuk kaum sekuler dan liberal saat ini, kembali sewot! Padahal, Soekarno sendiri dalam dekritnya, 5 Juli 1959, jelas-jelas menyatakan bahwa Piagam Jakarta menjiwai UUD ’45. Jadi, jika sekarang umat Islam mengatur dirinya melalui Perda Syariah, itu sah-sah saja, dan sangat sesuai dengan UUD ’45, karena Piagam Jakarta itu menjiwai UUD.
Itu, baru segitu, kelompok yang sebenarnya tidak benar-benar berjuang untuk Indonesia merdeka (karena mereka lebih suka dipimpin penjajah yang ideologinya sama), mereka sudah sewot dan menusuk dari belakang. Nah, bagaimana jika umat Islam negeri ini menggugat dan menagih janji diberlakukannya Piagam Jakarta atau Dasar Negara yang berdasarkan Islam, sebagaimana janji Soekarno?
Sebab, walau bagaimanapun, umat mayoritas ini berhak merealisasikan Piagam Jakarta—lantaran penghapusan tujuh kata dan pengebirian kesepakatan lainnya dalam UUD 45 itu adalah tidak sah. Piagam Jakarta itu sudah disepakati dan disahkan pada 22 Juni 1945, dan golongan Kristen, AA Maramis pun sudah tanda tangan!
Jadi, jika Perda-perda Syariah itu dijalankan, sah-sah saja dan merupakan hak umat Islam sebagai bagian pelaksanaan Piagam Jakarta. Sedang penghapusan tujuh kata itu dilakukan secara sepihak tanpa melibatkan wakil-wakil Islam yang bersama-sama kelompok nasionalis-sekuler dan wakil dari golongan Kristen menandatangani Piagam Jakarta pada 22 Juni 1945.
Karenanya, sekali lagi, penghapusan tujuh kata itu tidak sah. Dengan demikian, Piagam Jakarta itu sampai sekarang tetap berlaku. Apalagi disebutkan,  UUD 45 itu dijiwai oleh Piagam Jakarta. Sementara Dasar Negara Islam yang dijanjikan belum jua diberlakukan, karena pengkhianatan, pembohongan dan penipuan yang dilakukan terhadap umat Islam.
(Disunting dan diperbarui kembali oleh salam-online.com dari Majalah An-Najah Edisi 72).

Rabu, 26 September 2012

Ironi Pendidikan di-NAGARI kami!

sungguh Miris memang, ketika pertumbuhan Ekonomi Indonesia mulai membaik tapi tak begitu berdampak pada perekonomian rakyat jelata
masih kita jumpai anak-anak Putus sekolah, mengemis demi sejumlah rupiah


kemaren(26/9/2012) ketika aku lagi makan bakso di Bakso Mas Agus ada seorang remaja kecil, berpakaian lusuh datang sambil menyodorkan selembaran kertas yang berisi permohonan sumbangan alakadarnya.

memilukan memang, waktu ku tanya "adek dari mana" ia menjawab"dari tigo bal*h bang","haaa?!?!?!?" aku bingung. tigo bal*h, suatu kecamatan yang perekonomiannya cukup mapan dikota kami,Bukittinggi. ku berpikir sebegitu parahnyakah sikap APATIS warga daerah tersebut??dia kusuruh duduk, tak lupa ku pesan semangkok mie ayam pada si mas tukang bakso, karena ku pikir semangkok Mie Ayam lebih mengenyangkan dari semangko bakso yang kusantap.

"kamu kelas berapa?" "saya sudah tidak skolah lagi bang" jawabnya."law masih sekolah sekarang saya sudah kelas 1 SLTP"tandasnya."lhoo?!?? bukanya SMP masi gratis?", "ndk tahu wak do Da(minang)-saya tidak tahu bang. waktu tamat SD dulu saya tidak tahu, walaupun begitu seandainya saya tahu, saya mw beli baju pake apa? ibu hanya buruh cuci sedangkan ayah sudah meninggal 3 thn yg lalu"

MasyaALLAH,
ada apa dengan NAGARI kami? mengapa begitu APATISnya kalian berbagi sedikit rezeki dan secarik Informasi untuk anak Miskin yang merana ini?? dia hanya butuh pakaian yang harganya tak lebih dari seperLIMA harga BB kalian

ironi memang,
dahulu, orang kampung kami-BUKITTINGGI-suadah berpikir LUAS,memikirkan kesejahteraan suatu bangsa bukan suatu kota bung! tapi kini, jangankan untuk memikirkan bangsa, untuk membantu mensejahterakan Tetangga saja banyak yang tak sanggup

"lalu uang ini buat apa?" lanjutku, dengan linangan air mata ia menjawab"uang ini mau saya pakai untuk membayar tunggakan uang sekolah adek saya, disebuah sekolah suasta di Tigo bal*h"


SUBHANALLAH
, betapa mulianya hati anak ini, dia mau menahan malu,keliling pasar  demi kelanjutan sekolah sang adek.
kemudian dia kusuruh makan, tak lupa kuselipkan sejumlah uang digenggamannya.

Pelaku Pembacokan Tawuran Pelajar Mengaku Puas!



JAKARTA (voa-islam.com) - Belum usai kasus tawuran pelajar antara SMAN 6 dan SMAN 70 yang menewaskan Alawy Yusianto Putra, tawuran pelajar kembali terjadi.
Kali ini, tawuran pelajar SMA Yayasan Karya 66 (Yake) dan pelajar SMK Kartika Zeni (Kaze) juga memakan korban jiwa. Deny Januar (17), siswa kelas III SMA Yake tewas dengan luka bacok di perut, dalam aksi tawuran Rabu (26/9/2012) siang itu.

Menurut aparat kedua sekolah memang sering terlibat tawuran. Sehingga aksi Rabu siang tersebut adalah aksi lanjutan.

"SMK Kartika Zeni dan SMA Yayasan Karya 66 kan berada di wilayah Jakarta Timur nah mereka (saksi) menyampaikan pertengkaran sudah sejak lama terjadi di sana. Jadi ini peristiwa lanjutan. Kebetulan rumah mereka di Saharjo, Manggarai sekitarnya. Jadi tadi saat turun angkot ke rumah masing-masing mereka  berpapasan dan terjadilah tawuran," papar Kasat Reskrim Polres Jakarta Selatan, AKBP Hermawan, Rabu (26/9/2012).

Dalam aksi tawuran tersebut, pihak aparat kepolisian akhirnya menangkap seorang terduga pelaku pembacokan dari SMA Kaze dengan inisial AD.

Prihatin dengan aksi tawuran yang terjadi, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhammad Nuh mengunjungi AD alias Jarot, di Mapolres Jakarta Selatan.

Saya agak surprise, syok. Saya sempat tanya, puas mas membunuh korban? 'Saya puas pak'

M Nuh sempat syok saat berbincang dengan pembunuh Deny tersebut. "Saya agak surprise, syok. Saya sempat tanya, puas mas membunuh korban? 'Saya puas pak'," kata Nuh dengan mata berkaca-kaca kepada wartawan, Rabu (26/9/2012) malam.

Menegaskan apa yang didengarnya, Nuh kembali bertanya kepada pelajar kelas XI SMK Kartika Zeni itu.

"Puas pak, tapi agak menyesal," ungkap Nuh menirukan perkataan AD.

Lebih lanjut Nuh menuturkan, mendidik anak seperti tersangka memang berat. Ia menilai dari cara berbicara, gerak tubuh dan penampilannya, tak ada tanda penyesalan dalam diri AD.

"Ada beban sosial yang dibawanya. Bukan lagi masalah pendidikan atau sekolah biasa," tambahnya.

copas:voa-islam.com/

Selasa, 25 September 2012

Rohis Disudutkan, Tawuran Membuktikan!

BELUM selesai telinga kita mendengar tudingan miring yang dilayangkan oleh sebagian pihak kepada kegiatan elemen Kerohanian Islam (Rohi), kini jagad pendidikan negeri kita kembali diguncang dengan kasu.  tawuran pelajar antara siswa SMAN 6 dan SMAN 70 Jakarta, di kawasan Bulungan, tidak jauh dari Blok M Plaza, pada Senin (24/9) kemarin.
Tawuran ini menyebabkan Alawy, siswa SMA 6 kelas X berusia 15 tahun, tewas akibat terkena bacok di bagian dada.
Menurut saksi, ketika tawuran terjadi, Alawy saat itu sedang makan gulai di tikungan Bulungan. Melihat ada tawuran, dia lantas berlari menyelamatkan diri bersama teman-temannya. Namun naas terjadi. Dia terjatuh di depan KFC Bulungan dan langsung mendapat sabetan celurit di dadanya. Remaja kelahiran 1997 itu pun meninggal dunia. (detik.com/25-09-2012)
Peristiwa ini membuktikan, betapa menyedihkannya pendidikan negara kita. Terutama masalah karakter. Aspek ‘pendidikan akhlak’ dan ‘budi pekerti’ terhadap siswa di sekolah masih sangat kurang. Bayangkanlah bersama, seorang pelajar dengan bangga membawa clurit dan melukai orang lain hingga meninggal. Pantaskah ia disebut orang terpelajar atau berpendidikan?

Lebih ironisnya, peristiwa ini terjadi selang sehari setelah ribuan anak –anak Rohis melakukan aksi damai di bundaran Hotel Indonesia (HI), untuk menentang stigma teroris yang ditudingkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melalui salah satu stasiun televisi.
Peristiwa tawuran pelajar ini, sekali lagi membuktikan ada yang salah dunia pendidikan kita. Lagi pula semakin menunjukkan, ketidakseriuan pemerintah  dalam memprioritaskan pendidikan dan membina karakter generasi bangsa.
Jujur saja, sebagai orang yang pernah melewati masa-masa belajar, aspek ‘pendidikan’ agama, satunya-satunya aspek yang dianggap paling bisa membangun karakter siswa, masih belum mendapatkan porsi yang relevan dalam sistem dan realita pendidikan kita.
Lihat saja, pendidikan agama di sekolah-sekolah umum masih sangat minim. Hanya 2 jam pelajaran saja per pekan. Dengan porsi seminim ini, tentu sangat sulit bagi pemerintah untuk mewujudkan generasi bangsa yang berkarakter dan berdedikasi.
Pasalnya, di negara kita ini, bukan kali pertama mengenal istilah ‘tawuran pelajar’, fenomena tawuran ini bahkan sudah sangat akrab di kalangan siswa-siswa kita. Terutama para pelajar SLTP, SMK dan bahkan mahasiswa.
Tawuran pelajar ini jelas tindak premanisme dan teror. Karena sudah meresahkan masyarakat luas. Apalagi sudah memakan korban jiwa. Apapun kegiatan yang meresahkan dan menimbulkan rasa tidak aman bagi masyarakat jelas-jelas teror.
Sungguh berbanding terbalik dengan kegiatan anak-anak Rohis di masjid-masjid sekolah mereka.

Sayang, para stake-holder negeri ini, lebih curiga pada anak-anak di masjid daripada yang membawa clurit di jalanan.  Para pelajar yang mendapatkan ekstra-kurikuler keagamaan di luar jam pelajaran resmi sekolah dalam bentuk Rohis yang sangat concern terhadap dakwah Islam, da sepengetahuan dan pengawasan pihak sekolah justri lebih dicurigai dan mendapat stigma.

Bahkan, Rohis yang diajari bertindak sopan pada guru, orangtua, taat beribadah,  justru pernah diusulkan dilarang.
Kajadian tawuran pelajar yang baru saja terjadi telah membuktikan pada kita semua bahwa Rohis adalah solusi, bukan polusi. Karenanya, ia harus menjadi salah –satu alternative agar mampu menjadi problem solver dari fenomena-fenomena tawuran, seks bebas, narkoba, minuman keras dan semacamnya di kalangan remaja kita.
Sekali lagi, musibah ini,  semakin membuktikan, bahwa hanya pendidikan Islam-lah yang memiliki sistem dan konsep yang komperhensif dan integral dalam membina manusia.  Dan bahwa hanya sistem pendidikan Islam yang Rabbaniyah-lah yang benar-benar bisa mendidik generasi bangsa menjadi generasi yang shaleh dan berdaya guna. Berkarakter dan unggul.
Peristiwa-peristiwa kenakalan remaja,  termasuk tawuran ini, juga membuktikan bahwa pendidikan sekuler yang di jalankan oleh negara selama ini hanyalah semu dan palsu. Yang dikhawatirkan justru akan sangat membahayakan negara pada suatu hari nanti.
Kini, saatnya pemerintah harus benar-benar mengkaji ulang implementasi pendidikan karakter dan budi pekerti di sekolah. Pemerintah, orangtua, lingkungan  dan pihak sekolah harus secepatnya merealisasikan dan mengaodbsi kegiatan Rohis dalam pola kegiatan dan pembelajarannya. Karena hanya inilah sistem pendidikan yang bergaransi. yang telah melahirkan generasi-generasi unggul, berkarakter dan berdedikasi tinggi sepanjang peradaban ummat. Sebagai penutup, bukti sudah menunjukkan, “Rohis disudutkan, tawuran membuktikan!”
Penulis adalah Mahasiswa STAI Al-Hidayah Bogor
copas:hidayatullah.com/