Sabtu, 19 Januari 2013

Memilih Nama Usaha yang Sesuai dan Tepat

memilih nama bisnisShakespeare mengibaratkan arti sebuah nama bagi seseorang sebagai sebuah kata buatan manusia yang tak bermakna. Ia mengibaratkan sekuntum bunga mawar yang akan tetap harum meski namanya bukan “mawar”. Sebab, nama seseorang tidak menentukan baik atau buruk kualitas pribadinya.
Sayangnya opini Shakespeare mengenai nama tidak berlaku dalam dunia . Bagi sebuah , nama adalah salah satu faktor penentu dalam menentukan keberhasilan. Nama sebuah perusahaan, merek, produk, atau layanan dapat menjadi sebuah ‘label’ yang menjelaskan seperti apakah perusahaan, merek, produk, atau layanan tersebut. Nama yang baik dapat beperan sebagai pendorong bagi calon pelanggan potensial untuk membeli produk atau layanan yang ditawarkan, atau bisa juga tertarik untuk menjadi mitra . Sebuah nama yang baik juga berperan sebagai sebuah ‘papan iklan’ yang lebih efektif daripada iklan konvensional.
Dan yang paling penting bagi sebuah nama adalah hal pertama yang dapat membedakan kita dari para pesaing dan dapat membangkitkan emosi tertentu bagi para pelanggan. Keterkaitan secara emosional antara  Anda dengan pelanggan adalah sebuah aset yang harus dibangun dan terus menerus dipupuk karena hal tersebut akan membuat pelanggan selalu teringat dengan  kita dan akan kembali datang untuk seterusnya. Jadi jangan anggap remeh peran sebuah nama dalam  kita.
Sebelum memilih atau menciptakan sebuah nama, terdapat beberapa faktor yang sebaiknya dipertimbangkan. Yang pertama ialah jenis perasaan atau emosi apa yang Anda ingin pelanggan rasakan jika nama  Anda disebut. Yang kedua ialah strategi penempatan  Anda. Yang ketiga ialah nama-nama apa sajakah yang digunakan oleh para kompetitor Anda.
Membuat atau memilih nama yang baik dan efektif bagi suatu perusahaan baru, misalnya, akan lebih sulit daripada membuat nama yang bagus untuk seorang bayi yang baru lahir. Sangat kecil kemungkinan akan ada orangtua lain yang akan menuntut atau menyeret Anda ke meja hijau jika nama anak Anda sama dengan nama yang digunakan untuk anak mereka. Hal yang berbeda bisa terjadi pada dua perusahaan yang menggunakan nama yang sama atau menggunakan nama yang sama untuk merek produk yang mereka luncurkan karena nama dalam  biasanya terlindungi oleh hak merek.
Berikut ini adalah beberapa saran yang dapat digunakan dalam membuat atau menciptakan nama bagi  baru Anda:
1. Pilihlah kata yang spesifik dan khas karena kata yang terlalu umum atau general akan membuat  Anda sulit dikenali. Hindari kata yang terlalu umum atau sulit dikenali seperti, “Katering Bu Sri”. Bayangkan betapa banyak orang yang memiliki nama Sri. Akan sulit bagi calon pelanggan untuk menemukan  Anda dan yang lebih utama lagi ialah nama-nama yang terlalu umum seperti itu lebih sulit untuk diingat para pelanggan dan memiliki peluang yang lebih kecil untuk dapat dijadikan merek dagang.
2.  Hindari nama umum yang jelas-jelas menggambarkan jenis produk atau layanan tertentu, seperti “Perusahaan Air Mineral dalam Botol” atau “Usaha Layanan Antar Makanan Cina”.
3. Lazimnya Anda harus menghindari pula nama-nama yang lekat dengan letak geografis. Akan sulit bagi anda untuk mengganti nama  jika Anda kelak suatu saat memutuskan untuk memperluas usaha ke tempat lain atau berpindah lokasi usaha ke kota lain, misalnya. Tentunya terdapat beberapa pengecualian, contohnya Anda lebih memilih untuk menonjolkan selera atau nuansa lokal pada usaha Anda. Makna pemilihan nama yang berkenaan dengan letak geografis adalah pilihan yang tidak terhindarkan.
4. Sebisa mungkin lepaskan visi jangka panjang  Anda dengan tidak membatasi jajaran layanan atau produk Anda di masa datang.
5. Cobalah untuk menggunakan kata yang singkat, hanya terdiri dari beberapa suku kata dan relatif mudah bagi orang untuk mengucapkannya dengan benar. Sebuah nama  yang terlalu sulit dilafalkan akan membuat pelanggan malas menyebutkannya dan bahkan akan melupakannya.

sumber

Bermimpi dan Bekerja…

Ada orang yang seharian bekerja, ada yang seharian bermimpi dan ada yang mengawali hari dengan bemimpi kemudian mengisi sisa harinya dengan bekerja untuk mewujudkan mimpinya. Salah satu dari tiga jenis orang ini pasti ada yang cocok dengan Anda, tetapi yang mana ?

Perusahaan tempat Anda bekerja pasti menginginkan Anda menjadi orang jenis pertama, yaitu orang yang mengisi harinya dengan bekerja dan bekerja. Orang yang tidak berfikir neko-neko, waktu dan pikirannya terkooptasi penuh oleh dunia kerjanya sehingga tidak sempat berfikir yang lain.

Kalau toh mempunyai cita-cita, cita-citanya sebatas jenjang karir yang sudah diplot di instansi atau perusahaan tempatnya bekerja. Karena perusahaan atau instansi suka dengan orang yang seperti ini, mereka menyebut Anda sebagai karyawan atau pegawai yang berdedikasi tinggi.

Tidak ada yang salah dengan ini,  bila ini memang pilihan Anda dengan sadar bahwa inilah yang hendak Anda lakukan sampai akhir karier Anda. Yang perlu Anda pikirkan tinggal bagaimana atau apa yang Anda akan lakukan ketika karier Anda berakhir ? Ketika pengabdian Anda dipandang cukup sudah oleh perusahaan atau instansi tempat Anda bekerja ?, ketika dedikasi Anda sudah tidak diperlukan lagi !.

Golongan kedua adalah orang yang bermimpi sepanjang hari. Dia tidak harus pengangguran, bisa saja dia punya pekerjaan full time yang menyibukkan fisik dia sepanjang hari - tetapi hati dia di tempat yang lain. Dia bekerja hanya untuk memperoleh gaji, status atau motif yang lain.

Dia memiliki mimpi-mimpi yang tidak nyambung dengan pekerjaannya, tetapi juga tidak punya keberanian untuk meninggalkan pekerjaan dan mewujudkan mimpi-mimpinya.

Orang jenis kedua ini biasanya nanggung, atasan tempat Anda bekerja mudah melihat Anda sebagai karyawan yang kurang berdedikasi. Sebabnya adalah Anda tidak terlalu excited dengan pekerjaan dan jenjang karier Anda, Anda punya mimpi yang lain.

Bila Anda masuk kategori orang yang kedua ini, Anda harus fair kepada tempat Anda bekerja dan juga pada diri Anda. Anda tidak bisa berlama-lama dengan kondisi  mendua demikian, suatu saat Anda harus putuskan.

Anda bisa putuskan mimpi Anda, dan fokus pada pekerjaan Anda. Atau Anda putuskan pekerjaan Anda untuk mengejar mimpi-mimpi Anda. Bila yang pertama yang Anda pilih , maka Anda akan menjadi orang jenis pertama lengkap dengan konsekwensinya. Bila yang kedua yang Anda pilih, maka Anda akan menjadi orang jenis ketiga juga lengkap dengan resikonya.

Orang jenis ketiga ini adalah orang yang memulai harinya dengan mimpi, kemudia bekerja keras sepanjang sisa harinya untuk merealisasikan mimpinya.

Namanya juga mimpi, awalnya memang serba tidak jelas. Mimpi itu seperti snapshot – snapshot foto dari beberapa kejadian yang belum nyambung satu sama lain. Maka pekerjaan pertama Anda dengan mimpi Anda adalah merangkai snapshot-snapshot tersebut menjadi rangkaian foto yang menggambarkan sesuatu yang lebih jelas.

Bila gambaran tersebut sudah begitu jelas bagi Anda, itulah sudah terjadi metamorphosis dari mimpi Anda menjadi visi Anda. Tantangan berikutnya tinggal Anda bekerja keras lagi untuk menjabarkan visi menjadi strategi dan aksi.

Pada tahap implementasi ke strategi dan aksi inilah risiko demi resiko bermunculan. Betapa banyak ide cemerlang yang tidak menghasilkan apa-apa karena dia tidak dituangkan dalam strategy yang tepat dan aksi yang paripurna.

Resiko menjadi lebih besar lagi manakala apa yang Anda visikan adalah hasil proses ide kreatif untuk menghasilkan sesuatu yang unique, yang belum pernah dilakukan atau diciptakan oleh orang sebelumnya. Andalah orang pertama itu, Andalah yang babat alas untuk membuat peta wilayah baru – Anda harus siap diterkam harimau, dipatok ular dan digigit serangga ganas.

Resiko memang besar, tetapi bila Anda berhasil maka rasa puas dan syukur Anda insyaAllah juga lebih besar. Andalah pionir yang banyak-banyak dibutuhkan negeri ini untuk mengolah segala sumber daya yang melimpah, Andalah pahlawan yang dibutuhkan untuk menciptakan lapangan kerja dan mencegah kemiskinan di negeri yang mestinya kaya ini.

Maka beranilah bermimpi, tetapi tidak berhenti hanya bermimpi. Beranilah memulai dengan bermimpi tetapi kemudian isilah hari-hari Anda dengan kerja keras untuk mewujudkan mimpi itu. InsyaAllah.

sumber

Minggu, 16 Desember 2012

Manusia Itu Butuh Puasa

Screen-Shot-2012-12-07-at-1.35.51-PM12Oleh: Yudhistira Adi Maulana, Penggagas rumah sehat Bekam Ruqyah Centre yang berasaskan pengobatan Thibbunnabawi.
____________
SUATU saat saya menganalisis apa saja yang kita makan dalam keseharian. Contoh, bila beli gorengan dan melihat minyak goreng nya… wow hitam! Makan makanan instan, ada pengawet. Ada juga perasa. Makan daging, ada juga lemak. Minum minuman ringan, ada juga pemanis buatan, obat kimia, dan juga efek samping. Duhhh, kadang pusing ya?
Berarti apa saja yang aman dan nyaman yang harus kita konsumsi? Kadang suka ada orang yang pulang berobat, malah pas pulangnya jadi stress sendiri, karena pantrangannya banyak. Dia berpikir kalau begitu apa yang harus saya makan?
Di zaman modern ini, bila kita lihat, ternyata industri farmasi banyak sekali, rumah sakit banyak berdiri, tapi manusia sehat menjadi langka. Kita hidup zaman sekarang tidak akan pernah luput dari yang namanya racun yang masuk dalam tubuh kita. Saking banyaknya racun sehingga kita tidak sadar bahwa makanan yang kita berikan kepada anak-anak kita semenjak kecil, banyak sekali yang mengandung toksik, begitu banyak perasa pengawet, dan pewarna melebihi batas ambang toleransi.
Tidak heran jika usia kita yang sekarang ini sudah tak terhingga racun dalam tubuh; bagaimana mungkin kita bisa sehat sedangkan dalam tubuh kita terdapat banyak sekali toksik atau racun?
Ingat, semua penyakit, baik yang akut maupun yang sudah kronis berawal dari akumulasi racun serta sampah hasil metabolisme tubuh. Jika uang yang sedikit diakumulasikan akan menggunung jadi banyak. Nah, kalau racun diakumulasikan, apa jadinya? Ini pastinya akan menghabiskan tabungan.
Tentunya penyembuhan dengan mengeluarkan zat yang “meracuni” tubuh. Cara yang terbaik salah satunya berpuasa. Walau pun banyak teori yang mengungkap puasa mampu mengobati penyakit, sayangnya semua teori itu benar sekali.
Ternyata puasa memberikan kesempatan pada tubuh untuk beristirahat dari rutinitas mengolah makanan dan minuman. Energi yang biasa ada selalu digunakan tubuh  mengolah makanan. Nah, ketika kita berpuasa, kondisinya akan digunakan untuk melakukan perbaikan  kerusakan tubuh. Itulah sebabnya kenapa puasa mampu mengobati berbagai penyakit kronis.
Saat berpuasa, tubuh mengalami detoksifikasi secara alamiah. Tidak adanya makanan yang biasa masuk dalam lambung, membuat organ-organ tubuh seperti hati dan limpa “membersihkan diri”. Racun yang dibuangpun 10 kali lebih banyak, karena racun yang dikeluarkan lebih banyak daripada biasanya. Maka proses penuaan pun bisa dihambat untuk sementara.
Itulah sebabnya bila kita melakukan puasa dengan benar, wajah kita nampak lebih berseri, tubuh lebih sehat, dan jiwa pun lebih kuat. Ayo, berpuasa!
islampos.com

Rabu, 14 November 2012

Penanggalan Hijriah dan Identitas Umat


Oleh: Elvan Syaputra
Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram,” (QS : At-Taubah :36).
Tahun Baru Islam(awal Hijriah), 1 Muharram bertepatan dengan peristiwa besar ummat Islam yakni Hijrah. Hijrah Rasulullah beserta para sahabat dari kota Makkah menuju kota Madinah (622M).
 Tradisi ini senantiasa mengingatkan kepada ummat Islam, terhadap perjuangan panjang Rasulullah dalam mengemban amanah sebagai utusan Allah SWT, membimbing ummat kepada jalan yang di ridhoi oleh Allah SWT.
Perjalanan menuju kota madinah (hijrah) yang dilakukan ummat Islam yang ketika itu Rasullah SAW dan para sahabat, diantaranya kaum Anshor dan Muhajirin dengan sembunyi- sembunyi di tengah kegelapan malam serta ketakutan yang menyelimuti mereka dari bayangan kaum Quraisy, kaum yang sangat kontra dan tidak setuju dengan adanya risalah Islam.
 Dalam hal ini Allah SWT berfirman : “Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.” (QS Al-Anfaal Ayat 30).
Ketika bersembunyi dari kejaran kaum Quraisy (dalam gua di bukit Tsur), para sahabat sangat tegang dan ketakutan menghantui. Karena apabila persembunyian mereka diketahui oleh kaum musyrik, tamatlah riwayat mereka, itulah perasaan yang menyelimuti hati para sahabat ketika itu.
Namun dengan tenang Rasulullah berkata, yang ketika itu kepada Abu Bakar.“ Tetapi dijawab oleh Rasulullah SAW, “Wahai Abu Bakar, jangan kamu kira kita hanya berdua saya. Sesungguhnya Allah berserta kita” (Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita) QS At-Taubah ayat 40 (Sirah Nabawiyah oleh Dr. Muhammad Sa`id Ramadhan Al Buthy, Robbani Press)
            Peristiwa hijrah mengigatkan kepada ummat Islam akan arti perjuangan membela agama Allah, perjuangan untuk berpindah dari kegelapan (bathil) menuju kebenaran (haq), dan hal ini menjadi keharusan ketika ummat telah tidak lagi meyakini yang benar itu benar dan yang salah itu tetap salah.
Hanif Hidayatullah dalam Buliran Hikmah Hijrah Rasulullah yang diterbitkan oleh Media Republika mengatakan, banyak sekali nilai, hikmah dan tauladan yang dapat diambil dari peristiwa hijirah  Rasulullah SAW dan para sahabat, diantaranya penepatan awal tahun Hijriah yang terinspirasi akan semangat dakwah menegakkan risalah Islam.
Penanggalan Hijriah
Dr. Thomas Djamaludin dalam Konsistensi Historis-Astronomis Kalender Hijriyah, mengatakan penanggalan awal tahun 1 Hijriah dilakukan pada tahun ke 6 setelah wafatnya Rasulullah SAW.
Penanggalan Hijriah ditetapkan pada masa kekhalifahan  Umar bin Al-khathab dalam  sebuah upaya rasionalisasi sistem penanggalan yang digunakan pada masa pemerintahannya, melihat banyaknya persoalan yang timbul akibat ketidakjelasakan masa awal dari penanggalan Hijriah.
Persoalan penentuan bulan contohnya yang dialami oleh Gubernur Basrah pada masa itu. Al-Baruni menyatakan bahwa Khalifah Umar bin Al-Khathab Menerima Surat dari Gubernur Basrah, dan dalam surat itu tertulis “Kami hingga saat ini telah banyak menerima surat dari para amirul muminin, dan kami sungguh tidak mengetahui pilihan mana yang harus dilaksanakan terlebih dahulu, serta kami telah membaca agenda kegiatan yang bertanggakan Sya’ban, namun kami tidak tahu pasti Sya’ban mana yang dimaksud, apakah Sya’ban yang jatuh pada tahun ini atau Sya’ban pada tahun depan.
Menurut Abu Hasan Al-Atsari dalam bukunya Bidayah wa Nihayah Juz III, Khalifah Umar bin Al-Khathab menjadikan persoalan yang dihadapi Abu Musa Al-Asy’ari itu sebagai suatu persoalan yang penting, dan sebagai penentu kebijakan perlu sekiranya ia membuat  ketetepan Kalender yang seragam antara satu sama lainnya agar dapat dipergunakan untuk keperluan admisistrasi dan keperluan ummat dalam kehidupan.
Khalifah Umar bin Khattab mengumpulkan para sahabat dan mengadakan musyawarah untuk menentukan hal apa atau peristiwa apa yang paling tepat sebagai patokan awal tahun Islam tersebut, hingga keluarlah empat opsi : Pertama : Hari Kelahiran Rasulullah SAW sebagai awal tahunn Hijriah,  Kedua :  Hari Wafatnya Rasulullah SAW, Ketiga : Hari dimana ketika Rasulullah SAW menerima wahyu pertama dan merupakan awal tugas kenabiannya dan yang keempat :Peristiwa Hijrah Rasulullah SAW dan para sahabat dari Makkah ke Madinah.
Dengan ijtihad khalifah dan para sahabat ketika itu, peristiwa Hijrah lah yang menjadi tumpuan akhir, sehingga keputusanpun diambil dengan dengan bijak berasaskan musyawarah, menentukan Hijrah Rasulullah SAW yaitu 1 Muaharram, sebagai peristiwa yang paling tepat untuk mengawali sistem penanggalan Hijriah.
Pada tahun 638 M (17 H), Khalifah Umar bin Khatab menetapkan awal patokan Kalender Hijriah dengan menghilangkan seluruh bulan-bulan tambahan (interkalasi) dalam periode 9 tahun. Tanggal 1 Muharam Tahun 1 Hijriah bertepatan dengan tanggal 16 Juli 622 , dan tanggal ini bukan berarti tanggal Hijrahnya Nabi Muhammad. Peristiwa Rasulullah SAW terjadi bulan September 622.
Menentukan peristiwa Hijrah sebagai awal dari penaggalan Hijriah mengandung makna historis yang sangat dalam. Imam Sakhawi dalam kitabnya Al-I’laan bi al-tawbikh liman dzamma al-Tarikhmengatakan bahwa bulan Muharram sebagai awal bulan penanggalan  Hijriah karena niat Rasulullah SAW untuk berhijrah sudah ada sejak bulan tersebut (Muharram), inilah maka penentuan Hijrah sebagai awal Hijriah adalah sangat tepat, mengingat nilai, hikmah dan tauladan dari peristiwa tersebut.
Dan penanggalan Hijriah mengingatkan kepada seluruh ummat Islam bahwasanya setiap tahun bukanlah kepada kejayaan dan kebesaran Islam namun kepada pengorbanan (Nabi dan sahabatnya) dan mengingatkan mereka agar melakukan hal yang sama.
Identitas Ummat
Sebagai Agama rahmatan lil’alamin, identitas ummat Islam adalah inti utama daripada kemajuan risalah Islam. Identitas inilah yang menujukan eksistensi dan ukhuwah Islamiyah terhadap tantangan peradaban ummat dimasa sekarang dan akan datang.
Sebagai sebuah identitas, penanggalan Hijriyah terlihat dalam system birokrasi dan administrasi umat, karya-karya ilmiah yang dilahirkan oleh ilmuan Islam menggunakan penanggalan Hijriah, hingga saat ini  mayoritas umat Islam di beberapa Negara telah menggunakan penanggalan Hijriah.
Inilah awal dari Wacana  Kebudayaan dan Peradaban Islam serta perjuangan dalam menegakan risalah Islam, Sehingga transformasi nilai-nilai Hijriah sebagai sebuah identitas ummat sangat penting, dengan mengambil hikmah dan tauladan yang terkandung di balik peristiwa Hijrah yang dijadikan momentum awal perhitungan Tahun Hijriah.
Kita sepakat bahwa penanggalan Hijriah adalah identitas umat oleh karena umat Islam dimana saja, memiliki sejarah yang sama, yaitu sejarah Islam dan sejarah peradaban Islam, agama yang sama yaitu agama Islam,  kultur yang sama yaitu kultur Islam dan banyak lagi persamaan antara umat Islam di seluruh dunia.
Selain itu penanggalan Hijriah sebagai era baru pengembangan Islam, mengandung makna spiritual dan nilai historis yang amat tinggi harganya bagi agama dan umat Islam. Sebagai contoh yang dikemukakan oleh Sidi Gazalba dalam bukunya kebangkitan Islam dalam Pembahasan  1979, jalinan ukhuwah yang terjadi antara kaum Anshor dan Muhajirin ketika dalam perjalan Hijrah bersama Rasulullah SAW, Ukhuwah mereka melahirkan integrasi umat Islam yang kokoh dan mereka membuktikan bahwa Ukhuwah Islamiyah  bisa membawa ummat Islam jaya dan disegani.
Oleh sebab itu, penggunaan penaggalan Hijriah perlu untuk di terapkan dalam struktur kehidupan  ummat Islam, dengan menerapkan pananggalan Hijriah sebagai pedoman individu dan kelompok serta menyelami makna, hikmah, nilai dan tauladan yang terkandung dalam peristiwa Hijrah yang merupakan awal tahun baru Islam (Hijriah), dengan itu identitas ummat akan terjaga dan solid dalam menyongsong peradaban Islam yang bermartabat.
Belajar dari fenomena diatas ummat Islam harus kembali kepada Al-Qur’an, Sunnah dan peristiwa-perstiwa Sejarah Islam, dari sejarah inilah ummat Islam akan menemukan nilai-nilai spiritual dan perjuangan membela agama Allah (An-Nahl ayat 41-42), menjadikan Al-qur’an dan Sunnah sebagai sandaran, Tauhid sebagai tujuan dan Syariah Islamiyah sebagai pedoman hidup dan itulah identitas ummat Islam sebenarnya.
Wallahu A’lam bi Ash-Shawab.
_________
Elvan Syaputra, Peneliti Mizan Institute dan sedang menempuh Master Program Islamic Science University of Malaysia
islampos

Selasa, 13 November 2012

Penanggalan Hijriah dan Identitas Umat



Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram,” (QS : At-Taubah :36).
Tahun Baru Islam(awal Hijriah), 1 Muharram bertepatan dengan peristiwa besar ummat Islam yakni Hijrah. Hijrah Rasulullah beserta para sahabat dari kota Makkah menuju kota Madinah (622M).
 Tradisi ini senantiasa mengingatkan kepada ummat Islam, terhadap perjuangan panjang Rasulullah dalam mengemban amanah sebagai utusan Allah SWT, membimbing ummat kepada jalan yang di ridhoi oleh Allah SWT.
Perjalanan menuju kota madinah (hijrah) yang dilakukan ummat Islam yang ketika itu Rasullah SAW dan para sahabat, diantaranya kaum Anshor dan Muhajirin dengan sembunyi- sembunyi di tengah kegelapan malam serta ketakutan yang menyelimuti mereka dari bayangan kaum Quraisy, kaum yang sangat kontra dan tidak setuju dengan adanya risalah Islam.
 Dalam hal ini Allah SWT berfirman : “Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.” (QS Al-Anfaal Ayat 30).
Ketika bersembunyi dari kejaran kaum Quraisy (dalam gua di bukit Tsur), para sahabat sangat tegang dan ketakutan menghantui. Karena apabila persembunyian mereka diketahui oleh kaum musyrik, tamatlah riwayat mereka, itulah perasaan yang menyelimuti hati para sahabat ketika itu.
Namun dengan tenang Rasulullah berkata, yang ketika itu kepada Abu Bakar.“ Tetapi dijawab oleh Rasulullah SAW, “Wahai Abu Bakar, jangan kamu kira kita hanya berdua saya. Sesungguhnya Allah berserta kita” (Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita) QS At-Taubah ayat 40 (Sirah Nabawiyah oleh Dr. Muhammad Sa`id Ramadhan Al Buthy, Robbani Press)
            Peristiwa hijrah mengigatkan kepada ummat Islam akan arti perjuangan membela agama Allah, perjuangan untuk berpindah dari kegelapan (bathil) menuju kebenaran (haq), dan hal ini menjadi keharusan ketika ummat telah tidak lagi meyakini yang benar itu benar dan yang salah itu tetap salah.
Hanif Hidayatullah dalam Buliran Hikmah Hijrah Rasulullah yang diterbitkan oleh Media Republika mengatakan, banyak sekali nilai, hikmah dan tauladan yang dapat diambil dari peristiwa hijirah  Rasulullah SAW dan para sahabat, diantaranya penepatan awal tahun Hijriah yang terinspirasi akan semangat dakwah menegakkan risalah Islam.
Penanggalan Hijriah
Dr. Thomas Djamaludin dalam Konsistensi Historis-Astronomis Kalender Hijriyah, mengatakan penanggalan awal tahun 1 Hijriah dilakukan pada tahun ke 6 setelah wafatnya Rasulullah SAW.
Penanggalan Hijriah ditetapkan pada masa kekhalifahan  Umar bin Al-khathab dalam  sebuah upaya rasionalisasi sistem penanggalan yang digunakan pada masa pemerintahannya, melihat banyaknya persoalan yang timbul akibat ketidakjelasakan masa awal dari penanggalan Hijriah.
Persoalan penentuan bulan contohnya yang dialami oleh Gubernur Basrah pada masa itu. Al-Baruni menyatakan bahwa Khalifah Umar bin Al-Khathab Menerima Surat dari Gubernur Basrah, dan dalam surat itu tertulis “Kami hingga saat ini telah banyak menerima surat dari para amirul muminin, dan kami sungguh tidak mengetahui pilihan mana yang harus dilaksanakan terlebih dahulu, serta kami telah membaca agenda kegiatan yang bertanggakan Sya’ban, namun kami tidak tahu pasti Sya’ban mana yang dimaksud, apakah Sya’ban yang jatuh pada tahun ini atau Sya’ban pada tahun depan.
Menurut Abu Hasan Al-Atsari dalam bukunya Bidayah wa Nihayah Juz III, Khalifah Umar bin Al-Khathab menjadikan persoalan yang dihadapi Abu Musa Al-Asy’ari itu sebagai suatu persoalan yang penting, dan sebagai penentu kebijakan perlu sekiranya ia membuat  ketetepan Kalender yang seragam antara satu sama lainnya agar dapat dipergunakan untuk keperluan admisistrasi dan keperluan ummat dalam kehidupan.
Khalifah Umar bin Khattab mengumpulkan para sahabat dan mengadakan musyawarah untuk menentukan hal apa atau peristiwa apa yang paling tepat sebagai patokan awal tahun Islam tersebut, hingga keluarlah empat opsi : Pertama : Hari Kelahiran Rasulullah SAW sebagai awal tahunn Hijriah,  Kedua :  Hari Wafatnya Rasulullah SAW, Ketiga : Hari dimana ketika Rasulullah SAW menerima wahyu pertama dan merupakan awal tugas kenabiannya dan yang keempat :Peristiwa Hijrah Rasulullah SAW dan para sahabat dari Makkah ke Madinah.
Dengan ijtihad khalifah dan para sahabat ketika itu, peristiwa Hijrah lah yang menjadi tumpuan akhir, sehingga keputusanpun diambil dengan dengan bijak berasaskan musyawarah, menentukan Hijrah Rasulullah SAW yaitu 1 Muaharram, sebagai peristiwa yang paling tepat untuk mengawali sistem penanggalan Hijriah.
Pada tahun 638 M (17 H), Khalifah Umar bin Khatab menetapkan awal patokan Kalender Hijriah dengan menghilangkan seluruh bulan-bulan tambahan (interkalasi) dalam periode 9 tahun. Tanggal 1 Muharam Tahun 1 Hijriah bertepatan dengan tanggal 16 Juli 622 , dan tanggal ini bukan berarti tanggal Hijrahnya Nabi Muhammad. Peristiwa Rasulullah SAW terjadi bulan September 622.
Menentukan peristiwa Hijrah sebagai awal dari penaggalan Hijriah mengandung makna historis yang sangat dalam. Imam Sakhawi dalam kitabnya Al-I’laan bi al-tawbikh liman dzamma al-Tarikhmengatakan bahwa bulan Muharram sebagai awal bulan penanggalan  Hijriah karena niat Rasulullah SAW untuk berhijrah sudah ada sejak bulan tersebut (Muharram), inilah maka penentuan Hijrah sebagai awal Hijriah adalah sangat tepat, mengingat nilai, hikmah dan tauladan dari peristiwa tersebut.
Dan penanggalan Hijriah mengingatkan kepada seluruh ummat Islam bahwasanya setiap tahun bukanlah kepada kejayaan dan kebesaran Islam namun kepada pengorbanan (Nabi dan sahabatnya) dan mengingatkan mereka agar melakukan hal yang sama.
Identitas Ummat
Sebagai Agama rahmatan lil’alamin, identitas ummat Islam adalah inti utama daripada kemajuan risalah Islam. Identitas inilah yang menujukan eksistensi dan ukhuwah Islamiyah terhadap tantangan peradaban ummat dimasa sekarang dan akan datang.
Sebagai sebuah identitas, penanggalan Hijriyah terlihat dalam system birokrasi dan administrasi umat, karya-karya ilmiah yang dilahirkan oleh ilmuan Islam menggunakan penanggalan Hijriah, hingga saat ini  mayoritas umat Islam di beberapa Negara telah menggunakan penanggalan Hijriah.
Inilah awal dari Wacana  Kebudayaan dan Peradaban Islam serta perjuangan dalam menegakan risalah Islam, Sehingga transformasi nilai-nilai Hijriah sebagai sebuah identitas ummat sangat penting, dengan mengambil hikmah dan tauladan yang terkandung di balik peristiwa Hijrah yang dijadikan momentum awal perhitungan Tahun Hijriah.
Kita sepakat bahwa penanggalan Hijriah adalah identitas umat oleh karena umat Islam dimana saja, memiliki sejarah yang sama, yaitu sejarah Islam dan sejarah peradaban Islam, agama yang sama yaitu agama Islam,  kultur yang sama yaitu kultur Islam dan banyak lagi persamaan antara umat Islam di seluruh dunia.
Selain itu penanggalan Hijriah sebagai era baru pengembangan Islam, mengandung makna spiritual dan nilai historis yang amat tinggi harganya bagi agama dan umat Islam. Sebagai contoh yang dikemukakan oleh Sidi Gazalba dalam bukunya kebangkitan Islam dalam Pembahasan  1979, jalinan ukhuwah yang terjadi antara kaum Anshor dan Muhajirin ketika dalam perjalan Hijrah bersama Rasulullah SAW, Ukhuwah mereka melahirkan integrasi umat Islam yang kokoh dan mereka membuktikan bahwa Ukhuwah Islamiyah  bisa membawa ummat Islam jaya dan disegani.
Oleh sebab itu, penggunaan penaggalan Hijriah perlu untuk di terapkan dalam struktur kehidupan  ummat Islam, dengan menerapkan pananggalan Hijriah sebagai pedoman individu dan kelompok serta menyelami makna, hikmah, nilai dan tauladan yang terkandung dalam peristiwa Hijrah yang merupakan awal tahun baru Islam (Hijriah), dengan itu identitas ummat akan terjaga dan solid dalam menyongsong peradaban Islam yang bermartabat.
Belajar dari fenomena diatas ummat Islam harus kembali kepada Al-Qur’an, Sunnah dan peristiwa-perstiwa Sejarah Islam, dari sejarah inilah ummat Islam akan menemukan nilai-nilai spiritual dan perjuangan membela agama Allah (An-Nahl ayat 41-42), menjadikan Al-qur’an dan Sunnah sebagai sandaran, Tauhid sebagai tujuan dan Syariah Islamiyah sebagai pedoman hidup dan itulah identitas ummat Islam sebenarnya.
Wallahu A’lam bi Ash-Shawab.
_________
Elvan Syaputra, Peneliti Mizan Institute dan sedang menempuh Master Program Islamic Science University of Malaysia
sumber:islampos.com

Bukti Bahwa Uang Kertas Itu Memiskinkan Dunia…



KONON ada kekuatan di dunia ini yang menghendaki mayoritas umat manusia itu harus miskin dan membiarkan segelintir orang saja yang bisa kaya, maka kekuatan itu telah berhasil mengimplementasikan strateginya dengan sangat baik dalam setengah abad terakhir. Strategi yang digunakan tersebut adalah – apa yang sangat digemari umumnya manusia, yaitu uang kertas! Berikut buktinya.
Untuk bisa memahami apakah manusia didunia tambah makmur atau tambah miskin, pertama kita harus menyepakati dahulu tolok ukurnya. Bila tolok ukurnya yang digunakan adalah uang kertas – yaitu yang digunakan di dunia saat ini, maka betul seolah telah terjadi lompatan kemakmuran di dunia.
GDP per capita masyarakat di dunia telah melonjak dari US$ 2,756 tahun 1950, menjadi US$ 11,071 tahun 2011 lalu. Ini rata-rata dunia, rata-rata Indonesia masih kurang dari 1/3 rata-rata dunia atau di kisaran US$ 3,250 tahun 2011. Fokus tulisan kali ini adalah masyarakat dunia karena untuk masyarakat Indonesia sudah saya buat tulisannya melalui tulisan tanggal 31/10/2012 dengan judul, “Arti Kemamuran di Sistem Dajjal”.
Masalahnya adalah ketika tahun 1950 rata-rata orang di dunia bisa membeli 581 ekor kambing dari pendapatan per tahunnya, kemudian tahun 2011 hanya mampu membeli kurang dari 1/10-nya yaitu hanya mampu membeli  52 ekor kambing dari pendapatan per tahunnya – apa bisa dikatakan mereka tambah makmur? Tentu tidak, malah yang sebaliknya yang terjadi – rata-rata mereka bertambah miskin!
Penglihatan itu semakin jelas manakala kita sandingkan antara kacamata Dollar dengan kacamata Dinar – saya gunakan Dinar karena harga emas datanya tersedia selama dua abad terakhir, sedangkan harga kambing kurang lebih mengikuti harga emas ini selama lebih dari 1400-tahun.
Saya selalu ingin menyandingkan Dinar dengan kambing ini, supaya orang tidak berargumen bahwa telah terjadi bubble yang tidak wajar di harga emas. 1 Dinar tetap hanya cukup untuk membeli seekor kambing besar, tidak cukup untuk membeli sapi atau unta. Dia juga tidak turun sehingga hanya cukup untuk membeli sate, membeli ayam atau telur – sebagaimana yang terjadi pada uang kertas.
Sekarang perhatikan pada grafik disamping yang menggambarkan bagaimana kinerja pendapatan penduduk dunia sejak tahun 1950. Saya tarik ke tahun 1950 supaya Anda bisa melihat – bahwa pasca Perang Dunia II sampai tahun 1970 memang terjadi peningkatan kemakmuran di dunia – baik dari kacamata Dollar maupun kacamata Dinar.
Tetapi mulai tahun 1971 ketika Amerika mulai mengingkari perjanjian yang dipimpinnya sendiri – perjanjian Breton Woods, di mana semua uang yang kertas seharusnya dikaitkan dengan emas tetapi mulai tahun 1971 uang kertas tidak lagi dikaitkan dengan emas – maka sejak saat itu pulalah kacamata dunia menjadi bias manakala melihat kemakmuran.
Dan siapa yang sengaja membiaskan penglihatan manusia di dunia ini? Bersyukurlah kita semua yang mendapatkan petunjuk langsung dari uswatun hasanah kita Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam melalui sabdanya: “Maukah aku beritahukan kepada kalian suatu hal mengenai Dajjal? Suatu yang belum pernah dikabarkan oleh seorang nabipun kepada kaumnya: Sesungguhnya Dajjal itu buta sebelah matanya, ia datang dengan sesuatu seperti surga dan neraka. Yang dikatakannya surga berarti itu adalah neraka. Dan sungguh aku memperingatkannya atas kalian sebagaimana Nabi Nuh mengingatkannya atas kaumnya.”(HR. Muslim)
Dan siapakah Dajjal itu? Dijawab pula melalui hadits beliau lainnya: “…bahwa ia (Dajjal) itu adalah Yahudi…” (HR Muslim).
Dunia yang mengira bahwa selama ini telah teradi pertumbuhan ekonomi – karena diukur dalam US$, ternyata tidak mampu meningkatkan kemakmuran penduduknya kecuali terhadap sedikit orang yang memang dimungkinkan dalam sistem yang mereka buat.
Bila grafik sebelumnya memperlihatkan pendapatan per capita penduduknya, grafik disamping memperlihatkan Gross World Product yang mencerminkan tingkat pertumbuhan ekonomi dunia, dunia mengira tumbuh padahal susut – lha memang itulah yang dikehendaki Dajjal!
Belajar dari sudut pandang ini, maka dibidang apapun, bukan hanya dari urusan ekonomi, tetapi juga dalam urusan pendidikan, budaya, politik, sistem hidup, peradaban dst – umat ini memang harus mengembangkan tolok ukurnya sendiri. Jangan terkecoh tolok ukur dajjal yang seolah mengajak penduduk dunia ke surga kemakmuran padalah sesungguhnya mereka telah menjerumuskan penduduk dunia ke neraka kemiskinan.
Kita diajari untuk berlindung dari Dajjal, maka selain menghafal sepuluh ayat pertama surat Al-Kahfi – kita juga harus bisa memahaminya dan mengimplementasikannya dalam bentuk perlindungan dari segala sistem yang mereka paksakan di dunia ini. InsyaAllah kita bisa, insyaAllah!*
Penulis adalah Direktur Gerai Dinar dan kolumnis hidayatullah.com

Gerebek Pesantren, Densus 88 Lakukan Kriminalisasi Ajaran islam


 Aksi Densus 88 yang menggerebek Pondok Pesantren Darul Akhfiya di Desa Kepuh, Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur merupakan bentuk kriminalisasi terhadap ajaran Islam terutama jihad.
Demikian dikatakan Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya kepada itoday, Selasa (13/10/2012).
“Tindakan Densus 88 itu sangat tidak bijak,” ungkap Harits.
Menurut Harits, sangat tidak logis Densus 88 menggerebek pesantren tersebut hanya karena ditemukan buku-buku jihad dan aktivitas silat.
“Jika hanya karena ada aktivitas silat kemudian di pesantren tersebut ditemukan buku-buku jihad, Densus 88 main gerebek dan tangkap, maka harusnya Densus 88 gerebek saja seluruh pesantren yang ada di Indonesia,” ujarnya.
Kata Harits, kalau alasan Densus 88 menggerebek pesantren tersebut ditemukan kegiatan silat, lebih baik pasukan antiteror kepolisian itu juga membubarkan aktivitas beladiri di pesantren tradisional maupun modern.
“Semua pesantren baik tradisional atau modern yang ada aktivitas atau unit beladirinya bubarkan saja,” kritik Harits.
Ia melihat tindakan Densus yang menggerebek Pondok Pesantren Darul Akhfiya di Desa Kepuh, Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk telah melukai umat Islam.
“Saya melihat tindakan Densus 88 sangat kontra-produktif dan kesekian kalinya melukai perasaan umat Islam,” paparnya.
Kata Harits, tidak ada pesantren yang mengajarkan terorisme hanya karena membahas bab jihad di dalam kajian kitab-kitab fiqihnya.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Densus 88 menggerebek Pondok Pesantren Darul Akhfiya di Desa Kepuh, Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Selasa (13/11/2012) dini hari.
Selanjutnya Densus 88 membawa sekitar 50 santri Pondok Pesantren Darul Akhfiya ke Markas Polres Nganjuk. Densus 88 menduga para santri itu terlibat dalam jaringan “teroris”.
Harits Abu Ulya
Pengasuh Pondok Pesantren Darul Akhfiya bernama Nasiruddin Ahmad alias Landung Tri Bawono, 34, asal Sukoharjo, Solo.
Nasiruddin membantah Pondok Pesantren Darul Akhfiya dan dirinya terlibat dalam jaringan “teroris”. Kata Nasiruddin, di pesantren Darul Akhfiya diadakan pengajian seperti biasanya dan pelajaran bela diri.
“Kami tidak mengajarkan gerakan terorisme, namun hanya ilmu agama seperti pesantren umumnya. Selain itu, kami juga mengajarkan ilmu beladiri,” ujar Nasiruddin.
Tak salah jika ada yang berpikir, apakah ini merupakan skenario lanjutan untuk mempertahankan imej pesantren sebagai sarang dan pencetak “teroris”? (isa)-sumber: itoday(SALAM-ONLINE.COM):